Kenapa kuliah lagi?

Pertanyaan ini umumnya datang di benak sebagian besar sarjana S1 yang baru saja menyelesaikan kuliah sarjananya. Begitu selesai kuliah, memang rata-rata dari mereka menginginkan untuk segera bekerja dan mencari uang. Tujuan mereka dengan uang yang di dapat pun bermacam-macam. Ada yang ingin segera menabung untuk dapat mempersunting gadis pujaannya, ada yang ingin  memiliki mobil impiannya, ada yang ingin segera memiliki rumah pribadi, sampai dengan ada yang sekedar ingin bersenang-senang tanpa tujuan yang berarti. Tidak ada yang salah dengan ini semua, dan tidak ada yang bisa melarang karena sebagai seorang insan manusia, kebahagiaan merupakan hak asasi.

Tapi tidak berarti hanya uang yang menjadi tujuan para sarjana S1 ini. Sebagian dari mereka masih berpikiran bahwa pendidikan S1 merupakan awal dari ‘perjalanan ilmu’ mereka. Tidak berarti mereka tidak membutuhkan uang, karena setiap ‘perjalanan’ pasti membutuhan biaya. Porsi terbesar dari ‘perjalanan ilmu’ ini mungkin merupakan rasa penasaran atau curriousity terhadap suatu hal yang belum terpenuhi sewaktu menimba ilmu di jenjang S1.

Keinginan untuk melanjutkan study S2 pun bisa jadi berangkat dari adanya kesempatan. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam hal memperoleh pendidikan. Inilah fakta yang harus dapat diterima di mana-mana, tidak hanya di tanah air sendiri, melainkan di negara maju sekalipun. Sebagai contoh, di negara seperti Amerika, untuk bisa melanjutkan kuliah, banyak anak-anak muda yang harus berani berhutang ribuan dollar untuk bisa sampai lulus. Begitu lulus dan bekerja, gaji yang didapat kembali untuk membayar hutang kuliahnya selama beberapa tahun kerja. Sedikit ironi memang, ketika seseorang membutuhkan uang untuk sekolah, kemudian sekolah untuk mencari kerja, dan ketika kerja untuk mencari uang. Jadi, uang–> kuliah –> kerja –> uang.

Kesempatan untuk melanjutkan study S2 pun tidak jarang bertentangan dengan awal karir seseorang. Bagi mereka yang baru menyelesaikan kuliah S1 nya, dengan jiwa dan pikiran idealisnya bekerja menerapkan ilmu yang telah dipelajari selama 4-5 tahun di bangku kuliah, dan merasakan hidup sebagai manusia yang berguna karena bisa menghasilkan nafkah pribadi. Begitu di awal karir kerjanya hingga tiba kesempatan untuk melanjutkan study S2 datang, dan di saat itu pula dilema tersebut datang antara pilihan untuk memilih duduk lagi di bangku sekolah atau melanjutkan pekerjaan dan rintisan awal karir.

Beasiswa merupakan salah satu kesempatan yang bisa dipergunakan untuk mereka yang ingin melanjutkan study S2. Di Indonesia, hampir setiap tahun selalu ada kesempatan beasiswa baik untuk study di universitas dalam negeri maupun di luar negeri. Hanya saja, kesempatan ini jarang dimanfaatkan dengan baik. Kenapa? Besar kemungkinan, dilema akan karir, uang, dan stabilitas kehidupan yang selalu lebih menggoda. Sekali ini, tidak ada yang salah dengan itu karena kembali bahwa hidup adalah pilihan bagi setiap manusia, life is about choice.

Fakta yang ada, di Indonesia sendiri masih kekuarang lulusan doktor untuk dapat bersaing dengan negara-negara lain. Negara-negara tetangga di Asia seperti Singapore, Jepang, Korea Selatan, dan bahkan Malaysia melahirkan ratusan bahkan mungkin ribuan doktor tiap tahunnya. Dan seharusnya ini bisa dicontoh oleh Indonesia, dan tentunya dengan support dari pemerintah. Sayangnya, energi yang ada saat ini di Indonesia hanya terpusat kepada urusan politik yang stagnan. Mungkin membawa kemajuan sebagai negara demokrasi dengan kesuksesan rangkaian agenda politik seperti pemilu dan sebagainya. Tapi sayang, jabatan politik sekedar jabatan semata, agenda politik sekedar hanya memamerkan demokratisasi bernegara yang semu, dan semua ini dampaknya tidak berasa signifikan terhadap kemajuan negara selain hanya menjadi tontontan talk show di media masa yang semakin mirip dengan acara gosip.

Jika muncul pertanyaan, apakah dengan menuntut ilmu lebih lanjut di jenjang S2 atau S3 bisa merubah kondisi negara menjadi lebih baik, lebih maju, dan mampu bersaing dengan negara berkembang atau negara maju lainnya? Saya tidak menjamin 100% bahwa ini merupakan jawaban atas permasalahan sebuah negara. Tapi setidaknya dengan menuntut ilmu yang lebih tinggi, kita sudah berusaha untuk tidak menjadi bagian yang merusak sebuah negara.

Advertisements

Tulisan Akhir Tahun 2009



Akhirnya, tahun 2009 ini akan segera berakhir dan akan diganti dengan tahun baru 2010. Bagi sebagian orang, mungkin pergantian tahun demi tahun tidak begitu berasa, begitu juga dengan saya. Saya pun (biasanya) tidak merasakan pergantian tahun demi tahun sebagai waktu yang lama. Tapi, berbeda dengan tahun ini. Tahun ini cukup spesial buat saya secara pribadi.

Hal umum, bagi pegawai kantoran biasa seperti saya, yang biasa ditunggu-tunggu adalah kenaikan gaji di perusahaan tempat kita bekerja. Kenaikan gaji di tahun ini saya kira cukup ‘miris’ karena dunia tahun ini seperti masih terkena imbas dari krisis ekonomi AS dan negara-negara Eropa lainnya (sub prime mortgage, etc.). Walhasil, industri-industri yang berpusat di AS, dan pihak-pihak yang terkait dengan rangkaian cincin arus uang dan barang di belahan dunia lainnya, terkena imbasnya pula. Tidak tertutup untuk kita yang berada di Indonesia. Rasanya, tidak ada kenaikan gaji yang signifikan tahun ini (makanya jangan mau jadi pegawai seumur hidup! – kata pengusaha sukses). Terlepas dari banyaknya pemutusan hubungan kerja atau PHK di berbagai perusahaan (dan sepertinya di AS tingkat pengangguran pun bertambah melebihi tahun-tahun sebelumnya pra-krisis tsb), pegawai-pegawai yang tidak terkena imbas PHK, berusaha mensyukuri akan pekerjaan tetapnya (makanya jangan mau jadi pegawai seumur hidup! – kata pengusaha sukses). Mereka yang terkena imbas PHK pun, bukan berarti mereka tersedih tersedu-sedu dan akhirnya sulit mencari kembali pekerjaan. Ya, mungkin tidak bisa digeneralisir seperti itu, tapi banyak orang (terutama di industri yang saya geluti sekarang ini), bahagia menerima uang pesangon dan merasa tidak sulit untuk mencari pekerjaan gantinya. Justru, dengan begitu, mereka memiliki tabungan (apa, tabungan?) dari pesangon PHK mereka (makanya jangan mau jadi pegawai seumur hidup! – kata pengusaha sukses).

Terkait urusan rumah tangga, saya melihat untuk manusia-manusia di usia saya sekarang ini (dan bukan berarti saya menyindir para manusia yang lebih tua dari saya), banyak yang telah menentukan pilihan hidupnya dan memutuskan untuk menempuh sisa hidup di dunia ini dengan pasangannya. Beberapa resepsi pernikahan yang saya hadiri, cukup bervariasi dan membuat saya pun menyadari bahwa ukuran sepatu hitam saya rupanya terlalu besar, sangking jarangnya saya pergunakan untuk pergi ke undangan dan baru tahun ini saya sering sekali pakai. Dengan bangganya saya menyatakan menolak untuk membeli sepatu Ki**ers yang dibandrol discount akhir tahun 30%..-_-. Kembali ke pembahasan awal, apapun itu, saya pribadi percaya bahwa urusan jodoh berada di tangan Yang Maha Kuasa. Dan, bagi yang percaya bahwa menikah merupakan salah satu ajaran untuk menyempurkan ibadah kita di dunia ini, saya melihat sendiri rekan-rekan saya yang – masa persiapan dan menjelang pernikahannya – diberikan kemudahan dan rejeki. Subhanallah. Untuk yang ini pun, penulis merasakannya secara pribadi. Alhamdulillah. Mengutip salah satu lirik penyair terkenal Indonesia, berbuat baik janganlah ditunda-tunda.

Bagi yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, tahun 2009 ini mungkin tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Padahal, kita punya PRESIDEN baru di tahun ini (ya muka lama wakil baru memang). Satu hal kecil saja, perihal yang hampir setiap orang yang beraktifitas di kota Jakarta ini alami setiap hari. Macet. Siapa yang tidak kenal dengan macet di Jakarta? Tidak ada. Kecuali, mereka yang setiap hari pergi dan pulang dengan tidak menggunakan kendaraan roda dua, roda empat, ataupun kendaraan umum. Saya melihat, mau siapapun gubernur yang menjabat, masalah kemacetan ini mau tidak mau, lambat cepat, pasti akan dihadapi untuk kota – dimana perputaran uang di negara kita masih berkumpul di sini – besar dan menjadi target kedatangan penduduk dari wilayah lain. Ada semut ada gula, ya selama gula masih bertebaran, semut pun akan kungjung datang. Begitulah kira-kira kondisi yang dihadapi kota Jakarta ini. Semakin hari, semakin banyak penduduk yang datang, dan tidak menutup kemungkinan, suatu saat nanti, kota ini akan terlelep. Bisa? Ya, bisa. Kota ini berada di bawah permukaan air laut, dan pembangunan serta pemukiman yang semakin bertambah banyak…ya, ini bila dilanjutkan akan berujung pada pembahasan seputar masalah teknis – lebih baik cukup sampai di sini.

Selain penduduk-penduduk yang datang, semakin menarik bahwa jumlah kelahiran manusia baru di kota ini pun tidak sedikit dan perbandingannya jauh lebih banyak ketimbang jumlah kematian manusianya. Saya rasa, ini pun dialami di sebagian kota-kota besar di dunia yang padat penduduknya. Sebagai contoh kecil saja, rekan kerja saya di kantor yang cubiclenya berjarak tidak jauh dari cubicle saya (makanya jangan mau jadi pegawai seumur hidup! – kata pengusaha sukses), sudah tiga wanita yang melahirkan di tahun ini. Untuk yang ini pun, penulis merasakannya secara pribadi pada istri, yang InsyaAllah akan melahirkan di awal-awal tahun depan. InsyaAllah.

Bagi sebagian orang seperti saya, yang mengikuti perkembangan dunia IT & gadget – secara awam-sebagai end user saja-, sedikit banyak mengalami trend baru. Fenomena yang ada semisal, harga handphone yang mulai tersaingi dengan hadirnya smartphone Blackberry. Demam Blackberry ini pun diiringi dengan hadirnya pesaing smartphone lainnya, iPhone. Tidak tertutup, laris-manisnya gadget ini pun akibat semakin berkembangnya dunia internet dan dunia sosial maya yang ada sekarang ini. Blog? Oke, ini sudah cukup lama. Tapi, fenomena munculnya cara orang berkomunikasi baru, semisal Twitter. Berita pun begitu cepat menyebar lewat situs sosial ini. Yang cukup miris belakangan terdengar, bahwa biaya bulanan orang-orang yang terkena syndroma Blackberryzm, setara dengan biaya uang sekolah untuk anak-anak di sekolah dasar yang kurang mampu. Ini PR untuk kita semua, bukan hanya pemerintah, terkait dengan pendidikan manusia Indonesia. Semua berhak untuk pendidikan yang layak. Semua berhak untuk penghidupan yang layak. Semua berhak untuk meraih mimpi dan cita-citanya. Semua…semua…dan semua…tinggal, bagaimana kita menyeimbangkan hak-hak itu dengan kewajiban-kewajiban kita yang harus dilaksanakan..:)

Akhirnya, tahun 2009 ini akan segera berakhir dan akan diganti dengan tahun baru 2010. SELAMAT TAHUN BARU 2010.

Bergunalah untuk orang lain…

Semalam, setelah nonton salah satu acara di tv swasta yang memberikan tentang motivasi kehidupan, ada satu hal yang cukup menarik untuk dibahas, yaitu mengenai hubungan antara waktu yang berputar dan usia seseorang.

Waktu yang dihabiskan oleh seseorang untuk mencapai, katakanlah, usia 40 tahun, adalah sama untuk setiap manusia di muka bumi ini. Ya, karena bumi memiliki waktu 1 hari = 24 jam, dan hal ini berlaku untuk setiap orang. Hal yang membedakan adalah, seberapa bermanfaatnya waktu yang dihabiskan oleh orang tersebut sewaktu menjalani hidupnya sampai usia 40 tahun tersebut?

40-thn1Perhatikan gambar di atas. Bagi yang semalam melihat acara ini di tv, mungkin masih ingat dengan gambar ini. Orang memiliki waktu yang dihabiskan untuk mencapai 40 tahun ini sama.  Persamaanya terlihat pada ujung awal-ujung akhir kedua garis tersebut, terletak pada dua garis vertikal yang sama, yang memperlihatkan rentang waktu selama 40 tahun, yaitu 40 x 365 hari x 24 jam.

Apa perbedaannya? Perbedaanya terletak pada panjang garisnya. Bayangkan jika kedua garis tersebut berupa seutas benang, benang satu bermotif belang-belang (garis putus-putus), dan benang satunya bermotif polos (garis lurus). Jika kedua benang itu direntangkan, maka benang bermotif belang-belang memiliki panjang yang lebih besar dibanding benang polos.

40-thn-panjangApa artinya? Jika benang tersebut kita analogikan sebagai usia hidup seseorang, orang yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain akan memiliki waktu yang lebih banyak dan lebih panjang ketimbang orang yang hidup biasa-biasa saja. Hidup biasa-biasa saja bukan berarti hidup tidak berguna, tolong dibedakan. Berguna pada orang banyak, niscaya Allah akan menyanyangi dan memberikan hidup yang lebih panjang kepada kita.

Memberikan manfaat kepada orang banyak sesuai dengan amanah yang harus diemban oleh setiap orang. Masih ingat dengan kalimat ini, “Sebaik-baiknya ilmu adalah yang bermanfaat bagi orang banyak” ? Ya, ilmu yang berguna hanyalah ilmu yang jika diterapkan, akan memberikan manfaatnya kepada orang banyak. Tak ada artinya ilmu yang dipendam sendiri dan itulah mengapa manusia tercipta sebagai makhluk sosial, yang tidak bisa hidup seorang diri.

Orang yang banyak digantungi nasibnya oleh orang lain, dan bermanfaat, akan senantiasa berlika-liku dan beririsan dengan banyak hal, sehingga panjang sekali perjalanannya, dan perputaran waktunya serasa jauh lebih lambat.

Bergunalah untuk orang lain…

For whom it may concern…

Jakarta, September 2008

Some incident happens. More hurts engraved reluctantly to everybody who facing it. I thought that I need to find something beneath the causal factor. Not only me, but this is just for the sake of reference. In case, this way may help. For whom it may concern…

From wikipedia

Psikiater adalah profesi dokter spesialistik yang bertugas menangani masalah-masalah gangguan jiwa. Berbeda dengan psikolog, seorang psikiater harus lebih dulu menamatkan pendidikan dokter umum. Gelar akademik seorang psikiater di Indonesia adalah Sp.KJ (Spesialis Kedokteran Jiwa).

Eventough it is stated ‘gangguan jiwa’, but from other source, I found that this was an ancient oppinion from people that should be cleared by today’s modern medical knowledge. Read below…

From kompas :

Ke Psikiater Belum Tentu Sakit JIWA
Oleh: dr.H. Tubagus Erwin Kusuma.Sp.KJ, (kompas.com)
Spesialis Kesehatan Jiwa

*) Menurut para psikiater, bicara itu dapat membantu memecahkan masalah kita
yang jelas juga banyak membantu mereka.

Selama ini banyak di antara kita malu mendatangi psikiater atau dokter spesialis
kesehatan jiwa. Takut dikira orang gila atau punya keluarga gila.

Alasan itu masuk akal lantaran ada pandangan di sebagian masyarakat bahwa seorang
psikiater adalah dokter bagi orang sakit jiwa. Celakanya, masyarakat juga menganggap
orang sakit jiwa itu hanya gila (psikosis). Pandangan itu salah besar. Yang benar, seorang
psikiater mengemban tugas promosi, prevensi, terapi, dan rehabilitasi. Juga, memikul
tugas psikiatri forensik yang berkaitan dengan bidang hukum. Jadi, yang perlu
mendapatkan bantuan psikiatri bukan cuma orang sakit jiwa!

Kita yang berjiwa sehat bisa meningkatkan taraf kesehatan jiwa kita (promosi) dengan
bantuan seorang psikiater. Dengan taraf kesehatan jiwa lebih tinggi, kita lebih tahan
dalam menghadapi stres (ketegangan) sehingga tidak mudah menjadi distres (sakit).
Caranya, dengan menjalani latihan mental untuk membiasakan diri menghadapi berbagai
hambatan dan tantangan secara bertahap menggunakan metode tertentu.

Psikiater juga perlu dikunjungi untuk mencegah timbulnya gangguan jiwa dalam
menghadapi masa penyesuaian diri terhadap perubahan keadaan (prevensi). Umpamanya,
perubahan dalam hal pendidikan, tugas, nikah, pindah (tempat tinggal, kerja, atau
sekolah), perubahan posisi atau status dalam masyarakat. Bahkan untuk mengetahui
sejauh mana kita tepat menduduki suatu jabatan pun sebenarnya dibutuhkan psikiater.

Ok, we know the definition, we know the meaning beyond the word-especially that people shouldn’t have impression of persons who attend to physiciatrist as a ‘mad’ person-, then next question probably would be ‘When we should find those physiciatrist?’. Here’s some another nice article that may interested to be read as well.

Have a good day!

"I did have strange ideas during certain periods of time." - Prof. John Nash