Bandung dan figur kang Emil

Apa yang dikerjakan oleh walikota Bandung, kang Emil, saat ini merupakan bukti nyata bahwa masyarakat di suatu kota sebenarnya merindukan figur publik dan pemimpin seperti dia. Walaupun saya, secara pribadi, tidak mengenal secara langsung sosok kang Emil, dan saat ini saya berada ribuan kilometer dari kota Bandung, tapi saya cukup rajin memantau perkembangan berita mengenai kota Bandung dan bagaimana hasil karyanya, yang menurut saya pribadi, sangat membanggakan. Saya sebenarnya memiliki rasa penasaran, mengapa figur seperti beliau tidak banyak ditemui di daerah lain?

Melihat sejarah singkat dari perjalanan karir, pendidikan, serta latar belakang keluarganya yang kental akan budaya tanggung jawab moral yang tinggi, tidak heran ketika beliau berani dan mau mewakafkan 25% waktunya untuk mulai berbuat sesuatu demi kehidupan dan lingkungan masyarakat yang lebih baik. Tidak perlu hidup bergelimang harta nan kaya raya, tapi cukup bahagia dengan segala kecukupan serta keluarga yang sejahtera, berbuat demi bangsa dan negara memang seharusnya bisa dimulai kapanpun.

Saya selalu teringat akan cuplikan kalimat dari salah satu film fiksi superhero favorit saya, Spiderman, yang berbunyi ‘with great power, comes great responsibility’. Menurut saya, kalimat ini sangat penuh makna dan bisa diinterpretasikan ke dalam kehidupan kita di dunia ini. Power dalam artian kekuatan, bisa berarti kekuatan dalam ilmu, materi, rohani, dan lainnya. Tapi semakin tingginya kekuatan tersebut, biasanya diiringi dengan tanggung jawab yang besar pula. Dan semakin tinggi tanggung jawab kita, semakin besar beban yang ada di pundak kita. Ada orang yang merasakan tanggung jawab sebagai beban, namun ada pula yang merasakan itu sebagai amanah yang diberikan oleh Tuhan. Dalam ajaran agama Islam, dikatakan bahwa sebaik-baiknya ilmu adalah yang bermanfaat untuk umat. Di sinilah salah satu letak kelemahan manusia, di mana dengan ego pribadi serta ketamakan yang tiada batasnya, sulit untuk dapat berbuat demi kebaikan orang lain.

Kembali ke rasa penasaran saya akan sosok seperti kang Emil dan kota Bandung. Ambil contoh kasus ketika kita melihat bagaimana para politisi yang mengincar kursi nomor 1 negara Indonesia karena mereka merasakan sudah ‘cukup’ layak dari segi materi atau kekayaan. Sehingga bagi warga negara seperti saya yang sangat awam mengenai dunia politik, bisa bertanya-tanya, apakah untuk memegang jabatan kursi nomor 1 di negara ini harus dengan kekayaan luar biasa sehingga memiliki jalur politik yang dimudahkan? Pertanyaan ini memang naif jika melihat bahwa kendaraan politik memang harus dengan bahan bakar full tank. Tapi saya selalu melihat ketika seorang politisi berangkat dengan kendaraan full tank dari awal, maka ketika itu pula patut dipertanyakan, apa sebenarnya tujuannya?

Sosok kang Emil ini menurut saya bisa dikatakan sebagai satu contoh yang patut dijadikan contoh untuk generasi-generasi muda yang peduli terhadap negaranya. Karena peduli terhadap negara bisa dimulai dari komunitas yang paling kecil dahulu, yaitu keluarga, lalu rukun tetangga, rukun warga, dan seterusnya. Saya terus terang setuju dengan salah satu filosofi hidup beliau yang mengikuti ajaran di keluarganya, bahwa ketika kita tidak bisa menolong diri sendiri terlebih dahulu, jangan mencoba-coba untuk menolong orang lain. Analogi yang sama bisa kita lihat sewaktu kita naik pesawat dan mendengar safety procedure di pesawat, dimana orang dewasa yang membawa anak-anak harus memasangkan masker oksigen terlebih dahulu ke diri sendiri baru menolong untuk memasangkan masker ke anaknya. Ketika kita sudah merasakan cukup dengan tujuan dan cita-cita hidup kita sendiri, maka saatnya kita untuk berbuat untuk kepentingan orang lain. Dan inilah momen yang tidak bisa semua orang menggapainya di usia yang relatif masih berada di usia produktif.

Dengan latar belakang pendidikan arsitek, kang Emil bisa dikatakan telah mencapai puncak prestasi seorang arsitektur. Sempat menimba ilmu S2 di Amerika, serta bekerja dan memiliki kehidupan yang serba berkecukupan di negeri paman Sam itu, kang Emil memutuskan untuk pulang ke Indonesia untuk mengabdikan ilmunya di ITB. Tidak berhenti di situ, beliaupun mengembangkan sisi entrepreneurship nya dengan mendirikan firma arsitek Urbane. Dengan firma nya ini, ia meraih berbagai macam penghargaan internasional dengan segudang project domestik maupun mancanegara. Maka tidak heran ketika ia sempat dinobatkan sebagai salah satu dari 10 arsitek paling berpengaruh di Asia.  

Walaupun secara umum saya berasal dari adat keturunan Jawa, tapi saya lahir di kota Bandung, sempat merasakan hidup di kota ini selama belasan tahun, sempat menimba ilmu semenjak SMA hingga lulus sarjana di kota ini. Dan saya (juga) punya harapan kota Bandung menjadi lebih baik di masa depan. 

Advertisements

Berbuatlah

Sudah banyak orang yang sering mengeluh-kesah akan realita kehidupan yang terjadi di Indonesia. Banyak dari pada mereka bisa berbuat sesuatu, tapi lebih banyak lagi yang menerima kenyataan yang terjadi dalam keadaan terpaksa.

Sayang ya. Padahal sebagai manusia, kita dianugrahi otak untuk berpikir, bertindak, dan melakukan sesuatu. Sebagai manusia juga, kita dianugrahi perasaan dan hati nurani yang bisa menentukan mana yang baik, mana yang buruk, serta mana yang benar dan mana yang salah.

Indonesia, sebagai negara yang mengakui beragam agama serta kepercayaan, dan dengan jumlah penduduk ke-4 terbesar di dunia, seharusnya bisa menjadi contoh dan teladan yang baik untuk negara-negara lain di dunia yang hanya sementara ini.

Jika Anda 99% sepakat dengan tulisan di atas, sebaiknya lanjutkan membaca dengan sebaris pertanyaan berikut, “Lalu, kenapa sekarang ini Anda hanya diam?”.

Keluarga Berencana…kemana?

Mengutip kembali tulisan saya di tahun 2008, “Reduksi Penduduk Mulai Sekarang” (http://bit.ly/f8xhdT), saya kembali diingatkan ketika membaca harian Kompas edisi 10 Januari 2011 kemarin, berita headline, yang ternyata menyatakan dengan jelas bahwa pertambahan penduduk di Indonesia itu memang benar mengikuti trend Eksponensial! (http://bit.ly/fmTQke)

Saya sejujurnya bingung dengan konsep pembangunan sumber daya manusia di Indonesia saat ini. Indonesia yang memiliki jumlah penduduk terpadat dengan rangking nomor 4 di dunia (http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_population), seharusnya bisa memanfaatkan potensi besar ini.

Lihatlah bagaimana tiga negara di atas Indonesia, China, India, dan Amerika Serikat. Tidak dipungkiri, kemiskinan tetap ada di semua negara tersebut. Tapi, setiap negara itu memiliki nilai tambah yang mampu ‘dijual’ untuk terus menutupi angka kemiskinan negaranya, serta memajukan tingkat kemakmuran warga negaranya. Saya memang bukan ahli persoalan ekonomi makro, maka saya melihat negara-negara tersebut secara simple. Sebagai contoh, negara China. Lihatlah barang-barang yang ada di sekililing Anda, dan perhatikan tulisan ‘Made in China’ yang tertera pada barang-barang tersebut. Contoh lain, India. Saya perhatikan beberapa cuplikan video-video yang dipublikasikan secara online di Youtube mengenai situasi perkantoran di Googleplex, ataupun Facebook, sampai dengan cerita mengenai seorang jenius di lulusan MIT dan Harvard University di Amerika, yang masih berdarah India, yang mendirikan akademi Khan secara online dan gratis. Semua hal yang berbau informasi dan computer teknologi, hampir sebagian besar berhubungan dengan negara ini. Amerika Serikat? Saya tidak tertarik untuk membahasnya. Satu kalimat saja, konsumerisme taraf akut.

Kemudian, muncul pertanyaan di benak saya. Semenjak sekolah di SD, selalu tersirat istilah-istilah BKKBN dan KB. Masih ingat? BKKBN adalah singkatan dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, dan KB tentu saja singkatan dari Keluarga Berencana. Lalu, pertanyaannya adalah, kemana istilah-istilah ini saat ini?

Hampir tidak pernah saya melihat adanya gerakan aktif mendukung program KB dari pemerintah saat ini. Semua terlalu fokus kepada hal-hal yang berbau politik, semenjak era reformasi bergulir di tahun 1998. Rasanya, tidak ramai dalam sehari jika harian surat kabar ataupun berita lokal di televisi tidak menyiarkan berita-berita seputar ‘kontroversi politik’ di ranah pergulatan kekuasaan negara ini. Memang, begitulah politik. Tapi, bukan berarti kita hanya terfokus pada satu hal saja dan melupakan hal yang lain, kan?

Ketika era orde baru, pemerintah cukup aktif dalam memprogagandakan Keluarga Berencana. Kini, rasanya tinggal sejarah dan masyarakat kembali kepada slogan lama, ‘banyak anak banyak rejeki’. Sayang sekali, slogan lama ini hanya bermodalkan ‘kepercayaan’ semata, tanpa diiringi dengan perencanaan yang matang dibalik hal tersebut. Pola pikir seperti ini sudah sepatutnya dirubah, karena di dunia saat ini, hanya mereka yang mau berjuang keras dan bersungguh-sungguh dalam hidup yang akan selamat dari gencatan ekonomi yang semakin hari semakin keras. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Yang idealis makin tipis, yang nasionalis makin rasis. Bukan begitu negara kapitalis jadi-jadian yang masih belajar untuk berdemokrasi secara dewasa?

Sayang rasanya ketika manusia-manusia di negara kita ini hanya dijadikan budak bagi kekuasaan segelintir orang yang ‘pintar’ melihat potensi ini. Pintar melihat potensi bagus, jika dan hanya jika bermanfaat untuk khalayak banyak. Siapa yang berbuat, mereka yang menuai hasil. Tapi perbuatan itu banyak macamnya, baik dan buruknya silakan Anda yang menentukan sendiri. Pun begitu, rakyat biasanya hanya mencicipi kue pahitnya saja. Rakyat. Ya, rakyat, yang bagi sebagian masyarakat Indonesia, istilah rakyat cenderung lebih diartikan sebagai kaum kecil yang tidak mampu. Padahal, mereka yang setiap siang bolong tertidur di gedung Senayan yang dingin dan ber-AC itupun, dengan bangganya menopang jabatan sebagai anggota dewan perwakilan RAKYAT.

Jakarta Sejuta Bunga

Jika Anda sering melewati jalan yang direncanakan untuk menjadi Orchard Road-nya Jakarta, ruas prof.dr.satrio-casablanca, maka Anda akan melihat banyak sekali pot-pot tanaman baru yang dilekatan di ‘area hijau’ yang berada diantara ruas jalan. Area yang masih ditanami rumput dan saat ini masih berfungsi sebagai pembatas jalan. Mungkin, beberapa bulan atau beberapa tahun mendatang akan segera hilang karena dibutuhkan ruas jalan yang lebih lebar mengingat kemacetan di sepanjang ruas tersebut serta pembangunan apartment dan mal yang saat ini masih sedang dalam tahap konstruksi.

Hal menarik yang saya ingin soroti adalah mengenai pot-pot tanaman tersebut. Mungkin bagi sebagaian orang, ini hal sepele. Tapi, jika Anda perhatikan lebih detail lagi, di setiap pot tanaman yang kurang lebih setinggi 1 meter tersebut, terdapat tulisan, “Jakarta Sejuta…”. Sepintas sambil lalu saya tidak memperhatikan tulisan tersebut. Kemudian, karena jalanan di ruas tersebut hampir dipastikan setiap jam sibuk selalu macet, maka tak sengaja mata saya pun tertuju kembali kepada pot-pot tanaman tersebut. Dalam hati, saya berpikiran wahh..pemerintah mulai concern masalah lingkungan, mungkin untuk mengurangi tingkat polusi di seputar ruas jalan ini, maka mulailah diletakan pot-pot tanaman baru. Ada benarnya, karena saya yakin, selain masalah estetika, tingkat polusi diseputar ruas jalan ini pun sungguh-sangat-sekali tidak sehat. Saya memang tidak memiliki data pasti mengenai kadar gas karbon yang terdapat diseputar jalan ini. Tapi, apa yang saya lihat setiap hari, kendaraan bermotor tak henti-hentinya mengeluarkan gas sisa pembakarannya. Tidak menyalahkan para pengendara tersebut, karena saya pun salah satu dari mereka yang turut mengotori udara sekitar ruas jalan tersebut. Hanya saja, saya yakin, kendaraan yang saya pergunakan pasti lolos uji emisi..hehe Tidak seperti bis-bis tua yang masih saja dipaksakan untuk saling salip-menyalip dengan sesama bus tua lainnya.

Sepintas, saya kembali terpikir dengan tulisan yang ada di pot-pot tanaman tersebut. Dalam hati, saya berpikir, mungkin tulisannya akan berbunyi, “Jakarta Sejuta Penduduk”. Atau mungkin “Jakarta Sejuta Rakyat”. Namun, ketika mata saya tertuju kembali kepada tulisan yang ada di pot-pot tanaman tersebut, ternyata tulisan yang terdapat pada pot-pot tanaman tersebut adalah “Jakarta Sejuta Bunga”. Spechless…

Puasa datang…Jalanan tetap terang…

Hari ini, tepat seminggu berpuasa di bulan Ramadhan. Tepatnya, di Jakarta.

Satu perubahan yang unik setiap saat terjadi di bulan puasa ini adalah mengenai perubahan jam macet di lalu-lintas kota Jakarta ini. Untuk hari-hari normal, waktu macet berkisar di pagi dan sore hari, saat orang berangkat untuk beraktifitas di pagi hari, dan saat sore, ketika orang pulang dari aktifitas menuju rumah. Jam waktu macet ini pun bermacam-macam untuk setiap daerahnya. Beberapa tempat yang dekat dengan sekolahan, tentunya akan mengalami lalu-lintas yang lebih padat di pagi hari, karena banyak anak sekolahan yang diantarkan menggunakan kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat.

Ketika bulan puasa, jam macet ini berubah. Orang cenderung untuk datang lebih pagi ke kantor, dan pulang lebih cepat. Tentunya, semua ingin berbuka puasa dengan nikmatnya di tempat tinggal masing-masing, baik rumah, kostan, apartment, ataupun kontrakan. Dan, sekitar jam 7 malam, saat di mana orang muslim melaksanakan shalat taraweh, jalanan terlihat cukup lenggang. Ini yang menarik.

Kenapa menarik? Kita sering kali mendengar bahwa Jakarta adalah kota metropolitan, apapun ada dan bisa terjadi di sini. Bahkan, entah kenapa, lebih banyak hal negatif yang terekspos di media masa, dibandingkan hal positif. Banyak orang berasumsi, Jakarta merupakan kota maksiat, kota yang tidak beriman, banyak terjadi perilaku-perilaku yang di luar norma-norma agama, dsb. Tapi, siapa yang menyangka, bahwa sebagian besar masyarakat Jakarta ternyata melaksanakan shalat teraweh di masjid ketika bulan puasa?

Jika Anda tidak percaya, silakan anda keluar rumah menggunakan kendaraan (baik roda dua atau empat), dan rasakan bagaimana ‘cukup’ lenggangnya jalanan sekitar pukul 19.00 WIB sampai dengan 20.00 WIB. Lenggang untuk ukuran kota Jakarta, tentunya akan berbeda dengan lenggang di pedesaan ataupun kabupaten. Masyarakat Jakarta seakan terbiasa dengan kemacetan dan waktu tempuh yang berjam-jam di jalanan, dengan kecepatan tempuh 0-5 km/jam, ataupun 5-10 km/jam, terbiasa dengan kata-kata ‘padat merayap’, ‘berhenti’, ‘ramlan’ (singkatan dari ramai lancar), dsb. Semua seolah-olah menjadi bagian dari aktifitas yang tidak terpisahkan. Jadi, jangan heran ketika seseorang yang tinggal di Jakarta mengatakan bahwa jalanan lenggang, padahal kecepatan tempuhnya tidak melebihi dari 40 – 50 km/jam.

Ketika seseorang berkendara di jalanan DAN sambil berpuasa, terlihatlah wajah-wajah kalem dan penuh kesabaran. Entah itu macet total, entah itu ada truk patas as di tengah ruas jalan, entah itu padat merayap, bahkan ketika hujan mengguyur Jakarta (dan entah apa sebabnya) sehingga macet di mana-mana. Ya, mereka tetap ‘terang’…sembari berpuasa.

Lihatlah…dan pikirkan barang satu menit saja, ternyata masih ada perasaan-perasaan ikhlas dan putih itu di kota ini. Janganlah kita memperburuk kondisi kota ini dengan selalu berpikiran negatif dan menyeramkan. Lihatlah…kota ini pun mampu menunjukkan dengan sendirinya, bahwa masih banyak orang yang beribadah dan menjalankan kewajiban beragamanya dengan penuh kesadaran…

Go Jakarta…Go Indonesia…

http://twitter.com/tomy_momy