Day #9 – Kung Pao Chicken

IMG_2614

Semua orang pasti pernah merasakan masakan Cina. Tidak mungkin tidak, karena saya yakin masakan Cina ini terdapat hampir di seluruh pelosok dunia.

Tidak bisa lepas dari cabai, dan sebagai penikmat kacang, tidak bisa rasanya bagi saya untuk tidak memilih menu masakan ini ketika menyantap di sebuah restoran Cina. Kung Pao Chicken!

Menurut sejarahnya1), Kung Pao Chicken ini merupakan salah satu masakan Cina klasik, yang berasal dari propinsi Sichuan, di bagian Tengah-Selatan Cina. Menurut ceritanya, istilah “Kung Pao” sendiri berasal dari salah satu pemimpin di Cina dari jaman dinasi Qing, yang bernama Ding Baozhen (1820-1886). Ia lahir di daerah Guizhou, pernah menjadi pemimpin propinsi Shandong, yang pada akhirnya menjadi gubernur propinsi Sichuan. Gelar yang ia peroleh saat itu adalah Gong Bao, atau yang artinya pelindung yang megah. Istilah “Kung Pao” ini pada akhirnya diambil dari gelar ini.

Tidak hanya menikmati masakan yang disajikan di restauran-restauran, saya pun mencoba untuk memasak sendiri menu Kung Pao Chicken ini. Jaman sekarang, dengan modal jaringan internet saja, sangat mudah untuk memperoleh resep-resep masakan apapun. Beruntung, banyak sekali orang-orang di dunia ini yang gemar memasak, dan mereka tidak segan-segan untuk berbagi resep masakannya ke siapa pun yang menginginkannya. Jika resep yang didapat dirasa kurang lengkap, bisa mencari resep dan video yang dilengkapi dengan tata cara memasaknya.

Ternyata, mudah sekali. Hasilnya? Lihat foto di atas 🙂 Maknyusssssssss….:g

-tn-


1) Referensi: http://en.wikipedia.org/wiki/Kung_Pao_chicken

#5 – Lorong Waktu

IMG00213-20111004-1712Derap langkah setiap hari terasa berbeda, ketika hari demi hari berubah menjadi gelap dengan lebih cepat. Hari itu, Robin merasakan apa yang sudah lama tidak ia rasakan.

Robin, seorang pengacara bujang yang sedang pada posisi puncak kariernya. Ia memulai karirnya di sebuah firma kecil, di kota di mana ia menyelesaikan kuliah sarjana dan pasca-sarjananya. Kota itu sepi dan sedikit penduduknya. Di kota itu pula ia dilahirkan. Dengan predikat cumlaude yang ia miliki, tidak sulit baginya untuk mencari pekerjaan. Puluhan perusahaan berusaha melamarnya, hanya saja, ia merasakan, di kota itulah tempatnya yang cocok untuk berkarya.

Di firma itu, ia menangani berbagai klien, mulai dari pengusaha kecil, karyawan kantoran, hingga pensiunan pegawai negeri. Hampir seluruh kliennya merasakan puas dengan jasa yang diberikannya, terbukti dengan puluhan kasus yang berhasil ia menangkan di pengadilan dalam waktu yang terbilang singkat. Prestasi gemilang ini membuat karirnya melesat cepat.

Berangkat dari testimoni-testimoni kliennya, sebuah kantor hukum terkenal mulai meliriknya. Kembali, ia menerima tawaran kerja dari perusahaan, persis ketika ia baru saja selesai di wisuda ketika itu. Ia merasa muda.

Click…Click…click…

Suara itu terdengar dari ruang kerjanya. Ia mulai menggerakan mouse nya, dan membuka sebuah folder di dalam laptopnya yang sudah lama sekali tidak pernah ia buka. Folder dengan tulisan ‘CV-Robin’ itu memang terakhir ia buka sekitar lima tahun yang lalu. Dan malam itu, di tengah cuaca gelap yang menyelimuti kantornya, ia membuka kembali folder tersebut. Ia melihat, hanya ada satu file berukuran kecil.

Click…Click…

Sebuah aplikasi terbuka dan ia mulai membaca perlahan tulisan yang muncul…

‘Nama…Robin Hersodarya’, sebutnya.

‘Usia…dua puluh…tiga…tahun’, lanjutnya lagi perlahan.  

Astaga!, sahutnya dalam hati. Ia mulai sadar dan berusaha mengingat-ingat kapan terakhir ia menuliskan angka itu. Ia tidak tahu. Ia tidak ingat persis, kapan ia mulai menyusun dan merangkai kata-kata di dalam file itu. Ia lupa akan waktu. Ia lupa akan hari.

Ia bisa menyebutkan dengan detail dan panjang lebar akan kasus-kasus yang pernah ia hadapi selama ini. Tapi ia tidak tahu, kapan terakhir kali ia pergi menonton film di layar lebar.

Ia bisa menjelaskan rangkaian pasal-pasal serta undang-undangan hukum yang ia kuasai. Tapi ia tidak tahu, kapan terakhir kali ia merangkai kata-kata cantik untuk ulang tahun ibunya.

Hidupnya hanyalah hari-harinya menyelesaikan kasus demi kasus. Hidupnya hanyalah rangkaian perkara demi perkara. Hidup hanyalah kemenangan demi kemenangan bagi kliennya.

Ia mulai bertanya-tanya, di mana kemenangan untuk dirinya sendiri?

Di mana hidupnya selama ini…

-tn-

 

 

 

#3 – Si Pengantar Koran

Hampir setiap malam, kerja paruh waktu ini ia jalani tanpa kenal lelah.

Setiap jam tidurnya ia relakan untuk terjaga, hanya untuk memastikan setiap sudut rumah mendapatkan harian surat kabarnya di pagi hari. Ketika mereka baru saja bangun dari tidurnya, sebagai teman menyeruput kopi hangat dan roti bakar.

Tak ada perasaan lelah, walaupun ia harus mengikuti kelas di kampus setelahnya.

Tak ada perasaan benci, karena ia ikhlas mengerjakannya.

Tak ada perasaan bosan, toh baginya, ini hanya pekerjaan sementara.

Ia tahu, pekerjaan ini bukanlah miliknya. Mungkin saja, ia memakan lahan pekerjaan orang lain yang lebih membutuhkan pekerjaan ini dibanding dirinya.

Tapi ia tahu, jauh di belahan bumi selatan sana, ada keluarganya juga yang membutuhkan hasil jerih payahnya ini. Jauh lebih membutuhkan.

Ia terkenang akan keluarganya sejenak.

Ibunya…bapaknya…serta adiknya yang masih kecil dan baru saja masuk sekolah SD. Ia sadar, bapaknya hanya seorang buruh pabrik biasa, dan ibunya hanya menjalankan usaha warung kopi di desanya yang sepi dari penduduk.

Ia tahu, cita-citanya akan menuntunnya lebih dari ini.

Ia tahu, kemauan dan kerja kerasnya akan membuahkan hasil yang lebih daripada apa yang ia bayangkan saat ini.

Ia tahu, mimpi-mimpinya untuk membahagiakan keluarganya akan tercapai suatu hari nanti.

Tapi ada yang ia sangat tahu..

Bahwa Tuhan-nya Maha Adil…bagi umatnya yang mau berusaha.

 

– tn –

 

#2 – Penalti menit 92

Sebuah klub sepakbola ternama bernama FC Vokang, bermarkas di bagian utara kota AntiMabuk. Akhir pekan ini, klub ini akan menghadapi salah satu klub ternama papan atas bernama FC Hogasun, yang terletak hanya 15 kilometer dari kota JuaraJudi.

Seluruh pemain FC Vokang sudah menanti-nanti pekan ini untuk menghadapi FC Hogasun. Kali ini, pertandingan diadakan di kota AntiMabuk, dan FC Vokang bertindak sebagai tuan rumah.

Menjelang hari Sabtu, animo masyarakat kota AntiMabuk sudah sangat meriah dengan adanya pertandingan ini. Di setiap sudut kota, terdapat poster-poster pemain andalan mereka. Berbagai atribut bendera FC Vokang serta warna biru dongker, yang merupakan ciri khas dari klub FC Vokang ini, sudah menghiasi hampir setiap toko, restoran, serta bar-bar yang ada di kota ini. Walaupun banyak sekali bar di kota AntiMabuk ini, tapi masyarakat kota ini memiliki sebuah tradisi turun-temurun. Mereka memiliki tradisi suci, bahwa setiap manusia yang datang ke bar dan minum di bar, tidak diperbolehkan untuk mabuk. Ya, manusia. Karena kadang mereka datang dengan membawa hewan piaraan mereka, seperti anjing misalnya. Yang unik dari kota ini, hewan piaraan dibebaskan untuk minum cairan apapun, dan mereka tidak melarang hewan piaraan mereka untuk mabuk.

Seperti juga di kota AntiMabuk, masyarakat di kota JuaraJudi pun tidak kalah semangat. Mereka telah memesan tiket bus dan kereta untuk datang dan menyaksikan langsung tim andalan mereka, FC Hogasun, bertanding melawan FC Vokang. Memang diakui, FC Hogasun berada di atas angin karena peringkat klub mereka di liga utama berada pada posisi 2 nomor di atas FC Vokang. Bahkan, beberapa pendukung setia FC Hogasun, yang dikenal dengan istilah ‘Gasuners’, sudah datang ke kota AntiMabuk semenjak Jumat malam. Setiap pendukung datang membawa sebuah laptop mini, ponsel, lengkap dengan sebuah buku catatan kecil serta pena. Semenjak malam, mereka telah menyewa base camp di dekat stadion FC Vokang, yang mereka pergunakan untuk mengolah data.

Sedikit cerita tentang masyarakat kota JuaraJudi. Mereka gemar sekali bertaruh dan berjudi. Bagi mereka, tiada hari tanpa taruhan. Rata-rata pelajar di kota ini memang memiliki kemampuan bidang matematika yang luar biasa. Banyak sekali lahir akuntan profesional serta statistician kelas dunia dari kota ini. Tak heran, rata-rata hampir sebanyak empat jam setiap hari nya mereka luangkan untuk duduk dan mengolah data-data di depan laptop mereka. Berbagai klub olahraga dari seluruh penjuru dunia, berbagai liga-liga olahraga dalam dan luar negeri, serta data statistik atlet-atlet profesional sampai dengan jumlah kekayaan, bisnis yg digeluti, serta riwayat keluarganya, hampir mereka miliki. Dan malam itu, mereka yang berada di base camp FC Hogasun, disibukkan dengan profil serta data-data pemain FC Vokang.

Hari Sabtu pun tiba. Pertandingan segera di mulai di stadion sepakbola kebanggaan penduduk kota AntiMabuk. Para pendukung FC Vokang sudah mengantri semenjak pagi hari untuk menduduki tribun-tribun khusus pendukung tim tuan rumah. Masing-masing dari mereka sudah siap dengan minumannya, serta berbagai atribut di kepala, leher, lengan, bahkan mencorat-coretkan tato palsu di sekujur badannya. Di sudut penjuru yang lain, para Gasuners terlihat berkumpul di sekitar base camp mereka yang hanya berjarak 10 menit berjalan kaki dari stadion FC Vokang. Beberapa dari mereka terlihat masih sibuk dengan ponselnya, membicarakan nilai taruhan dengan bandar-bandar judi favorit mereka. Sebagian sudah mulai bersiap mengenakan atribut-atribut dengan corak merah kuning sebagai ciri khas klub FC Hogasun, dan sebagian lagi sudah ikut mengantri untuk masuk ke dalam stadion.

Peluit berbunyi. Kick-off, tanda pertandingan dimulai. FC Vokang memasang strategi andalan mereka dengan pola 4-4-2, sementara FC Hogasun tetap mempertahankan pola 3-4-1-2 andalan mereka, dengan 1 orang playmaker kelas dunia. FC Vokang, walaupun 2 nomor berada di bawah peringkat FC Hogasun, tetapi mereka memiliki penyerang subur dengan postur tubuh yang besar dan kekar. Dengan nomor punggung 9, pemain ini berada pada urutan nomor 1 sebagai pencetak gol terbanyak sementara.

Pertandingan di babak pertama berjalan cukup alot. Para pendukung FC Vokang terus bertepuk-tangan, sambil berteriak kencang mendukung pemain-pemain kesayangan mereka. Tidak lupa, teriakan-teriakan mereka selalu diselingi dengan setegak minuman yang mereka bawa. Bau khas minuman tersebut sangat tercium kencang diantara para penonton, sehingga orang lain pun bisa dengan mudah mengetahui merk dari minuman yang mereka bawa.

Babak pertama berakhir dengan skor 0-0. Para Gasuners mulai resah melihat hasil ini. Satu demi satu dari mereka mulai sibuk menekan tombol-tombol di ponsel mereka, dan berbicara dengan bandar mereka. Beberapa dari mereka bahkan sibuk berdebat satu sama lain, untuk memprediksi hasil akhir pertandingan yang telah berjalan 1 babak. Sebagian besar dari mereka telah bertaruh banyak untuk kemenangan FC Hogasun. Dan dengan skor kaca-mata di babak pertama ini, mereka mulai gundah dan gelisah.

Babak kedua segera dimulai, setelah 10 menit waktu istirahat bagi kedua klub. Para pendukung FC Vokang mulai membuka botol minuman kedua mereka, dan sembari berteriak, menegak minuman mereka sedikit demi sedikit. Mereka tidak mabuk. Bahkan, tidak ada satupun dari mereka yang mabuk. Mereka tahu bahwa tradisi suci mereka haram hukumnya untuk dilanggar.

Menit 80, FC Vokang mendapat hadiah tendangan penalti. Skor berubah 1-0 untuk keunggulan sementara FC Vokang. Beberapa Gasuners mulai terlihat geram. Mereka menggaruk-garuk kepala mereka, sambil melihat ponsel canggih mereka. Beberapa dari mereka bahkan mengeluarkan laptop mini mereka, dan kemudian mengotak-ngatik algoritma-algoritma untuk menghitung berapa kemungkinan besar keuntungan dan kerugian yang akan mereka dapat setelah peluit akhir berbunyi nanti.

Memasuki menit 89, terlihat beberapa pemain FC Vokang sudah ber-euforia dengan kemenangan mereka. Terlihat dari bagaimana mereka dengan sengaja mengulur-ngulur waktu di sela-sela tendangan penjuru, lemparan ke dalam, ataupun tendangan gawang yang mereka peroleh. Tindakan ini membuat para pemain FC Hogasun kesal. Mereka tahu, bahwa apapun bisa terjadi dalam pertandingan sepak bola. Dan ternyata benar.

Menit 92, kapten kesebelasan FC Vokang, yang juga menempati posisi sebagai libero, melakukan kesalahan fatal yang tidak perlu. Bola hasil tendangan gawang kiper FC Hogasun, disundul oleh playmaker andalan mereka ke arah kotak 12 pas, dan bola bergulir ke arah penyerang FC Hogasun. Penyerang bernomor punggung 10 ini seketika itu juga melakukan gerakan tipuan tanpa bola dengan maksud mengecoh kapten kesebelasan FC Vokang, yang berdiri persis di belakangnya. Gerakan ini menghalangi arah gerakan bola, dan membuat sang kapten panik ketika melihat ternyata bola sudah bergulir persis bersebelahan dengan posisi dirinya. Melihat penyerang FC Hogasun yang bergerak lari mengejar bola, refleks gerakan sang kapten untuk berusaha menahan gerakan si penyerang ternyata berbuah pahit. Kakinya persis mengenai kaki penyerang FC Hogasun yang berada di dalam kotak penalti. Wasit meniup peluit dan memberikan tendangan penalti untuk FC Hogasun.

Seluruh Gasuners berteriak gembira menyambut keputusan wasit. Beberapa pendukung hanya terdiam tidak percaya akan apa yang baru saja terjadi. Gasuners meneriakan dukungan kepada pemain penyerang mereka yang bersiap-siap untuk mengambil tendangan penalti ini. Dan…Goal! Skor berubah menjadi 1-1. Kontan, pendukung FC Hogasun bersorak-sorai menyambut hasil ini. Beberapa dari mereka terlihat melemparkan catatan-catatan mereka ke udara, sambil mengepalkan tangan seolah-olah merekalah yang bermain di atas lapangan rumput itu.

Ternyata, tidak semua pendukung FC Hogasun yang senang. Bahkan, sebagian dari mereka menyesal luar biasa setelah mereka membatalkan taruhan besar mereka yang berbalik mendukung FC Vokang. Mereka tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang pantas mereka keluarkan ketika skor itu berubah menjadi 1-1, dan selang beberapa menit kemudian, peluit panjang tanda pertandingan berakhir berbunyi. Kalaupun mereka tahu bahwa tim mereka akan kalah saat itu, tapi mereka tidak mengetahui kondisi sebenarnya yang terjadi di antara sesama pemain FC Hogasun di atas lapangan rumput itu, ketika pertandingan memasuki menit 89. Euforia kemenangan yang ditunjukkan oleh para pemain FC Vokang lah yang membuat semangat membara para pemain FC Hogasun muncul kembali untuk dapat pulang dengan kepala berdiri tegak. Mereka berhasil mengubah kondisi skor akhir dan merasakan kemenangan ada di tangan mereka.

Para Gasuners tertunduk lesu. Sebagian dari mereka merobek-robek catatan kecil mereka. Sebagian berdebat kencang dengan bandar mereka. Sebagian lagi hanya bisa tetap terduduk di bangku stadion, dan menyaksikan para pendukung FC Vokang terlihat senang dengan skor akhir imbang, walaupun di awal pertandingan, mereka punya peluang untuk menang. Ini berarti mereka setidaknya punya harapan untuk bisa melangkahi FC Hogasun, sebagai salah satu favorit juara liga tahun ini. Dan…mereka tidak mabuk.

– tamat –