Begitu Pentingnya Tumbuh Kembang Anak

Mengerti betapa pentingnya tumbuh kembang anak yang tidak bisa diulang kembali, membuat saya sadar bahwa mengapa sebuah negara sebegitu pedulinya memberikan hak kepada sang anak untuk merasakan asuhan dan sentuhan didikan dari orang tuanya langsung. Yang amat disayangkan adalah, ketika sebuah pemerintahan (atau negara) tidak memfasilitasi ini dengan membangun sebuah sistem yang dapat memberikan ’waktu’ bagi orang tua nya untuk mengurus buah hati mereka, khususnya dalam periode golden age tumbuh kembang bayi. Alih-alih, mempekerjakan nanny atau asisten rumah tangga (ART) untuk ’membesarkan’ mereka sewaktu para orang tua sibuk mengejar materi.

Saya pribadi tidak pernah menyalahkan keadaan di mana kedua orang tua sibuk bekerja dan mengejar materi dunia (syukur-syukur tidak lupa materi akhirat). Karena memiliki buah hati atau keturunan tanpa dibekali dengan materi yang cukup pun sama saja dengan berjalan di tepi jurang, lengah sedikit kita bisa jatuh terjerembab. Begitu juga dalam membesarkan anak. Materi jelas dibutuhkan. Bayi new born membutuhkan setidaknya pakaian, pampers, dan susu. Tidak semua ibu dapat memberikan ASI sehingga istilah ’susu’ di sini jelas mutlak diperlukan, apapun jenisnya. Tanpa materi yang cukup, itu semua tidak bisa kita harapkan begitu saja turun dari langit. Butuh persiapan, dan butuh usaha.

Konteks yang disayangkan adalah, sistem yang ada di negara kita, yang tidak cukup memfasilitasi hal ini mengingat golden age anak adalah ketika usia lahir sampai usia 3 tahun. Seolah-olah tidak peduli, ataukah karena memang tidak mau rugi? Perlu diingat bahwa mereka lah generasi penerus negara ini, dan tanpa mereka negara ini bisa apa? Tidak perlu menjamah jauh ke ranah politik, karena semua politikus dan pengurus negara saat ini pun dulunya lahir dari rahim ibu mereka, pernah menjadi bayi dan (mudah-mudahan) memiliki pendidikan yang mumpuni.

Di belahan negara lain, tidak sedikit negara-negara maju yang memang telah membangun sistem negaranya dengan memberikan berbagai kemudahan dan benefit untuk orang tua yang memiliki anak. Contoh konkrit nya misalnya, cuti ekslusif untuk sang ibu, dan cuti mengurus anak untuk kedua orangtuanya dengan porsi yang fleksible. Di Norwegia misalnya, cuti untuk mengurus anak ini hukumnya wajib di ambil bagi sang ayah dan ibu. Bahkan, sang ayah wajib mengambil cuti minimum 10 minggu. Sementara, di sisi lain, negara ini juga mengakui status pasangan tidak menikah, yang artinya mereka mengakui status anak walaupun kedua orang tua nya tidak menikah. Esensi yang begitu hebat diperlihatkan, terlepas dari status orang tua nya, bahwa anak yang lahir ke dunia – apapun status sosial mereka –  membutuhkan kasih sayang orang tua. Dan hebatnya lagi, cuti mengurus anak ini pun berlaku bagi mereka yang mengadopsi anak.

Coba kembali dipikir baik-baik. Generasi anak-anak kita nantinya akan hidup bersama dengan generasi anak-anak lainnya. Dengan populasi jumlah penduduk negara kita saat ini, angka tingkat kelahiran yang positif, serta kini dengan kalangan ekonomi kelas menengah yang semakin meningkat jumlahnya, bayangkan jika generasi anak-anak kita ini memiliki didikan sempurna dalam periode golden age mereka, lalu bayangkan kembali, apa yang akan terjadi dua puluh atau tiga puluh tahun kemudian. Luar biasa bukan? : )

Advertisements