Kopi Tanpa Gula…Yuk!

Siapa yang tidak tahu tentang sebuah biji tumbuhan bernama kopi? Hampir semua orang pernah merasakan yang namanya minuman kopi ini, walaupun rata-rata peminum kopi adalah manusia dengan tingkat usia yang relatif dewasa, menurut pandangan saya pribadi. Kenapa? Karena saya tidak merekomendasikan anak-anak dan remaja untuk (secara rutin) meminum kopi.

Kita juga tahu bahwa minum kopi setiap hari, dengan kuantitas yang tidak berlebihan, memiliki efek yang baik untuk kesehatan. Saya sengaja tidak mencantumkan referensi studi atau sebagainya, karena sudah cukup bosan membaca artikel dari berbagai sumber tentang manfaat kopi. Apalagi, jaman seperti sekarang ini, semua bisa diakses dengan mesin pencari di internet seperti Google. Dan pada umumnya, segala hal yang berlebihan pun tidak baik dan tidak bermanfaat, sehingga analogi yang sama pun berlaku secara general terhadap kuantitas meminum kopi dalam sehari.

Sayangnya, kebiasaan meminum kopi ini biasanya diikuti dengan berbagai macam ‘pelengkapnya’, misalnya, gula, susu, cream, kayu manis, dan sebagainya. Melihat dari komposisi pelengkap ini, rata-rata semua mengandung kalori yang cukup tinggi, dan lebih kurangnya berfungsi sebagai pemanis atau penambah rasa. Saya termasuk peminum kopi dengan tingkat kemanisan yang cukup tinggi sewaktu saya tinggal di Indonesia. Bahkan, sebagai seorang penggemar film pada umumnya, saya masih teringat sebuah adegan film dimana seorang aktor ternama memesan kopi hitam dengan gula yang banyak – “with extra sugar”, di mana adegan ini entah mengapa membawa pengaruh yang cukup besar untuk saya.

Saya baru menyadari ketika pertama kali nya menginjakkan kaki di bumi skandinavia, tepatnya di kota Stavanger, Norwegia. Secara umum, kopi yang dijual di café, di restoran, ataupun di retail market 24 jam, tidak biasanya menyediakan gula. Bahkan di kantor tempat saya bekerja part-time sambil kuliah, saya pun kesulitan untuk mencari gula sewaktu akan meminum kopi hitam dari pantry. Dan ketika saya mencoba memasukan gula dengan berbagai macam merk kopi yang dijual di supermarket, rasanya semakin tidak karuan. Saya mulai mempelajari kebiasaan orang lokal (Norwegia) secara umum terhadap kebiasaan mereka meminum kopi. Dari pengamatan pribadi secara langsung, membaca di berbagai sumber media, serta obrolan langsung dengan kolega kantor yang merupakan penduduk asli Norwegia semenjak lahir, memang mereka tidak mengenal kopi yang dicampur dengan gula.

Ada kisah menarik ketika saya ngobrol dengan salah satu graduate engineer di tempat saya bekerja saat ini. Pemuda lulusan salah satu universitas teknik terbaik di Norwegia ini sempat menimba ilmu selama 1 tahun di Singapura, sewaktu ia mengambil study S2 nya. Ketika di Singapura, ia terbiasa untuk memesan kopi hitam di kantin kampus nya setelah selesai makan siang. Dan seperti yang dapat ditebak, kopi yang disajikan biasanya sudah bercampur dengan gula, walaupun kadarnya mungkin tidak terlalu banyak. Namun, pemuda ini tidak pernah mau meminum kopi hitam yang disajikan seperti itu, dan selalu meminta untuk diberikan kopi hitam tanpa gula. Karena memang sudah menjadi kebiasaan orang Norwegia untuk meminum kopi hitam, hampir setiap hari pelayan kantin tersebut terpaksa membuang kopi hitam yang sudah bercampur gula dan menggantinya dengan kopi hitam tanpa gula. Hingga suatu hari, ketika pemuda ini memesan kopi hitamnya, si pelayan telah mempersiapkan kopi hitam khusus pemuda ini, yang tidak lagi bercampur dengan gula.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s