Berbuatlah

Sudah banyak orang yang sering mengeluh-kesah akan realita kehidupan yang terjadi di Indonesia. Banyak dari pada mereka bisa berbuat sesuatu, tapi lebih banyak lagi yang menerima kenyataan yang terjadi dalam keadaan terpaksa.

Sayang ya. Padahal sebagai manusia, kita dianugrahi otak untuk berpikir, bertindak, dan melakukan sesuatu. Sebagai manusia juga, kita dianugrahi perasaan dan hati nurani yang bisa menentukan mana yang baik, mana yang buruk, serta mana yang benar dan mana yang salah.

Indonesia, sebagai negara yang mengakui beragam agama serta kepercayaan, dan dengan jumlah penduduk ke-4 terbesar di dunia, seharusnya bisa menjadi contoh dan teladan yang baik untuk negara-negara lain di dunia yang hanya sementara ini.

Jika Anda 99% sepakat dengan tulisan di atas, sebaiknya lanjutkan membaca dengan sebaris pertanyaan berikut, “Lalu, kenapa sekarang ini Anda hanya diam?”.

Pohon Kota

(Sumber : Link ini)

Siang ini mendengar wawancara dari seorang pakar tentang ‘ilmu pohon’ di salah satu stasiun radio di Jakarta. Kenapa tiba-tiba pakar pohon ini di wawancara? Karena dalam kurun waktu beberapa hari terakhir, kota Jakarta diterjang hujan angin. Banyak sekali pohon tumbang serta baliho rusak dan patah. Tidak sedikit korban. Bukan hanya korban jiwa, tapi juga korban waktu dan tenaga. Sedikitnya, korban pemborosan yang terjadi pun tidak sedikit. Berapa banyak bensin terbuang percuma karena kemacetan yang terjadi. Tidak sedikit.

Sebagai warga Jakarta, saya sering bertanya-tanya juga, siapa yang merawat pohon-pohon yang ada di pinggir hutan beton kota ini? Sering kita dengar, gerakan menanam seribu pohon, dan sebagainya. Ya, kita hanya bisa untuk menanam saja, dan bukan merawatnya. Sama seperti budaya orang Indonesia pada umumnya (walaupun ini hanya pendapat sebagian orang saja), bahwa orang Indonesia hanya pandai membangun, dan tidak pandai memelihara/merawatnya.

Lucu ketika mendengar ada seorang penelpon di radio yang berkomentar, “Mbak, apa susah nya siy merawat pohon-pohon di kota itu? Yang diperlukan hanya menyiram pake air, bahkan airnya pun tidak perlu air bersih. Matahari gratis, tidak bayar. Membiarkan pohon-pohon itu tidak terawat itu dosa lho!”. Ketika saya mendengar komentar itu, terpikir juga, bahwa tidak sembarang orang yang bisa menanam pohon di daerah-daerah milik umum, karena daerah atau wilayah umum itu seharusnya dikelola oleh…PEMERINTAH. Artinya apa? Pemerintah lah yang memiliki hak, dan bukan masyarakat umum. Hanya saja, lantas kewajiban untuk merawat apa yang sudah ditanamnya, diserahkan pada khalayak umum ‘seikhlasnya’. Sungguh ironi ya.

Jaman dulu, ketika memasuki musim penghujan, orang biasa berteduh di bawah pohon rindang supaya tidak basah kuyub. Sekarang, warga di kota besar harus berpikir dua kali untuk melakukan hal itu. Either tidak kehujanan, or ketimpa (ranting) pohon yang tumbang.

(Sumber: Link ini)

Dengan segala ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada saat ini, hujan besar yang akan terjadi seharusnya bisa diprediksi dengan tingkat akurasi yang cukup tinggi. Anak SD bisa dengan mudah menjelaskan bagaimana siklus terjadinya hujan.

Andai ada pihak-pihak yang dengan serius mengelola dan merawat setiap pohon-pohon yang ditanam di kota, tentu saja jika benar serius, orang awam bisa mendapatkan jawaban dengan mudah jika bertanya, “selamat pagi, pak. Numpang tanya, kalo nanti siang hujan besar, dan saya mau lewat jalan X yang ada deretan pohon Y besar itu, apa cukup aman dan pohonnya tidak akan tumbang?”. Di jaman sekarang, orang mungkin malas untuk menekan nomer telepon dan berbicara. Tapi, bagaimana jika mereka cukup dengan memainkan jemari mereka di smartphone, dan bertanya melalui akun twitter atau facebook? Saya kira, orang akan semakin rajin bertanya untuk itu, hanya demi menghindari jalanan yang macet akibat pohon yang tumbang.