#5 – Lorong Waktu

IMG00213-20111004-1712Derap langkah setiap hari terasa berbeda, ketika hari demi hari berubah menjadi gelap dengan lebih cepat. Hari itu, Robin merasakan apa yang sudah lama tidak ia rasakan.

Robin, seorang pengacara bujang yang sedang pada posisi puncak kariernya. Ia memulai karirnya di sebuah firma kecil, di kota di mana ia menyelesaikan kuliah sarjana dan pasca-sarjananya. Kota itu sepi dan sedikit penduduknya. Di kota itu pula ia dilahirkan. Dengan predikat cumlaude yang ia miliki, tidak sulit baginya untuk mencari pekerjaan. Puluhan perusahaan berusaha melamarnya, hanya saja, ia merasakan, di kota itulah tempatnya yang cocok untuk berkarya.

Di firma itu, ia menangani berbagai klien, mulai dari pengusaha kecil, karyawan kantoran, hingga pensiunan pegawai negeri. Hampir seluruh kliennya merasakan puas dengan jasa yang diberikannya, terbukti dengan puluhan kasus yang berhasil ia menangkan di pengadilan dalam waktu yang terbilang singkat. Prestasi gemilang ini membuat karirnya melesat cepat.

Berangkat dari testimoni-testimoni kliennya, sebuah kantor hukum terkenal mulai meliriknya. Kembali, ia menerima tawaran kerja dari perusahaan, persis ketika ia baru saja selesai di wisuda ketika itu. Ia merasa muda.

Click…Click…click…

Suara itu terdengar dari ruang kerjanya. Ia mulai menggerakan mouse nya, dan membuka sebuah folder di dalam laptopnya yang sudah lama sekali tidak pernah ia buka. Folder dengan tulisan ‘CV-Robin’ itu memang terakhir ia buka sekitar lima tahun yang lalu. Dan malam itu, di tengah cuaca gelap yang menyelimuti kantornya, ia membuka kembali folder tersebut. Ia melihat, hanya ada satu file berukuran kecil.

Click…Click…

Sebuah aplikasi terbuka dan ia mulai membaca perlahan tulisan yang muncul…

‘Nama…Robin Hersodarya’, sebutnya.

‘Usia…dua puluh…tiga…tahun’, lanjutnya lagi perlahan.  

Astaga!, sahutnya dalam hati. Ia mulai sadar dan berusaha mengingat-ingat kapan terakhir ia menuliskan angka itu. Ia tidak tahu. Ia tidak ingat persis, kapan ia mulai menyusun dan merangkai kata-kata di dalam file itu. Ia lupa akan waktu. Ia lupa akan hari.

Ia bisa menyebutkan dengan detail dan panjang lebar akan kasus-kasus yang pernah ia hadapi selama ini. Tapi ia tidak tahu, kapan terakhir kali ia pergi menonton film di layar lebar.

Ia bisa menjelaskan rangkaian pasal-pasal serta undang-undangan hukum yang ia kuasai. Tapi ia tidak tahu, kapan terakhir kali ia merangkai kata-kata cantik untuk ulang tahun ibunya.

Hidupnya hanyalah hari-harinya menyelesaikan kasus demi kasus. Hidupnya hanyalah rangkaian perkara demi perkara. Hidup hanyalah kemenangan demi kemenangan bagi kliennya.

Ia mulai bertanya-tanya, di mana kemenangan untuk dirinya sendiri?

Di mana hidupnya selama ini…

-tn-

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s