Keluarga Berencana…kemana?

Mengutip kembali tulisan saya di tahun 2008, “Reduksi Penduduk Mulai Sekarang” (http://bit.ly/f8xhdT), saya kembali diingatkan ketika membaca harian Kompas edisi 10 Januari 2011 kemarin, berita headline, yang ternyata menyatakan dengan jelas bahwa pertambahan penduduk di Indonesia itu memang benar mengikuti trend Eksponensial! (http://bit.ly/fmTQke)

Saya sejujurnya bingung dengan konsep pembangunan sumber daya manusia di Indonesia saat ini. Indonesia yang memiliki jumlah penduduk terpadat dengan rangking nomor 4 di dunia (http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_population), seharusnya bisa memanfaatkan potensi besar ini.

Lihatlah bagaimana tiga negara di atas Indonesia, China, India, dan Amerika Serikat. Tidak dipungkiri, kemiskinan tetap ada di semua negara tersebut. Tapi, setiap negara itu memiliki nilai tambah yang mampu ‘dijual’ untuk terus menutupi angka kemiskinan negaranya, serta memajukan tingkat kemakmuran warga negaranya. Saya memang bukan ahli persoalan ekonomi makro, maka saya melihat negara-negara tersebut secara simple. Sebagai contoh, negara China. Lihatlah barang-barang yang ada di sekililing Anda, dan perhatikan tulisan ‘Made in China’ yang tertera pada barang-barang tersebut. Contoh lain, India. Saya perhatikan beberapa cuplikan video-video yang dipublikasikan secara online di Youtube mengenai situasi perkantoran di Googleplex, ataupun Facebook, sampai dengan cerita mengenai seorang jenius di lulusan MIT dan Harvard University di Amerika, yang masih berdarah India, yang mendirikan akademi Khan secara online dan gratis. Semua hal yang berbau informasi dan computer teknologi, hampir sebagian besar berhubungan dengan negara ini. Amerika Serikat? Saya tidak tertarik untuk membahasnya. Satu kalimat saja, konsumerisme taraf akut.

Kemudian, muncul pertanyaan di benak saya. Semenjak sekolah di SD, selalu tersirat istilah-istilah BKKBN dan KB. Masih ingat? BKKBN adalah singkatan dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, dan KB tentu saja singkatan dari Keluarga Berencana. Lalu, pertanyaannya adalah, kemana istilah-istilah ini saat ini?

Hampir tidak pernah saya melihat adanya gerakan aktif mendukung program KB dari pemerintah saat ini. Semua terlalu fokus kepada hal-hal yang berbau politik, semenjak era reformasi bergulir di tahun 1998. Rasanya, tidak ramai dalam sehari jika harian surat kabar ataupun berita lokal di televisi tidak menyiarkan berita-berita seputar ‘kontroversi politik’ di ranah pergulatan kekuasaan negara ini. Memang, begitulah politik. Tapi, bukan berarti kita hanya terfokus pada satu hal saja dan melupakan hal yang lain, kan?

Ketika era orde baru, pemerintah cukup aktif dalam memprogagandakan Keluarga Berencana. Kini, rasanya tinggal sejarah dan masyarakat kembali kepada slogan lama, ‘banyak anak banyak rejeki’. Sayang sekali, slogan lama ini hanya bermodalkan ‘kepercayaan’ semata, tanpa diiringi dengan perencanaan yang matang dibalik hal tersebut. Pola pikir seperti ini sudah sepatutnya dirubah, karena di dunia saat ini, hanya mereka yang mau berjuang keras dan bersungguh-sungguh dalam hidup yang akan selamat dari gencatan ekonomi yang semakin hari semakin keras. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Yang idealis makin tipis, yang nasionalis makin rasis. Bukan begitu negara kapitalis jadi-jadian yang masih belajar untuk berdemokrasi secara dewasa?

Sayang rasanya ketika manusia-manusia di negara kita ini hanya dijadikan budak bagi kekuasaan segelintir orang yang ‘pintar’ melihat potensi ini. Pintar melihat potensi bagus, jika dan hanya jika bermanfaat untuk khalayak banyak. Siapa yang berbuat, mereka yang menuai hasil. Tapi perbuatan itu banyak macamnya, baik dan buruknya silakan Anda yang menentukan sendiri. Pun begitu, rakyat biasanya hanya mencicipi kue pahitnya saja. Rakyat. Ya, rakyat, yang bagi sebagian masyarakat Indonesia, istilah rakyat cenderung lebih diartikan sebagai kaum kecil yang tidak mampu. Padahal, mereka yang setiap siang bolong tertidur di gedung Senayan yang dingin dan ber-AC itupun, dengan bangganya menopang jabatan sebagai anggota dewan perwakilan RAKYAT.