Tulisan Akhir Tahun 2009



Akhirnya, tahun 2009 ini akan segera berakhir dan akan diganti dengan tahun baru 2010. Bagi sebagian orang, mungkin pergantian tahun demi tahun tidak begitu berasa, begitu juga dengan saya. Saya pun (biasanya) tidak merasakan pergantian tahun demi tahun sebagai waktu yang lama. Tapi, berbeda dengan tahun ini. Tahun ini cukup spesial buat saya secara pribadi.

Hal umum, bagi pegawai kantoran biasa seperti saya, yang biasa ditunggu-tunggu adalah kenaikan gaji di perusahaan tempat kita bekerja. Kenaikan gaji di tahun ini saya kira cukup ‘miris’ karena dunia tahun ini seperti masih terkena imbas dari krisis ekonomi AS dan negara-negara Eropa lainnya (sub prime mortgage, etc.). Walhasil, industri-industri yang berpusat di AS, dan pihak-pihak yang terkait dengan rangkaian cincin arus uang dan barang di belahan dunia lainnya, terkena imbasnya pula. Tidak tertutup untuk kita yang berada di Indonesia. Rasanya, tidak ada kenaikan gaji yang signifikan tahun ini (makanya jangan mau jadi pegawai seumur hidup! – kata pengusaha sukses). Terlepas dari banyaknya pemutusan hubungan kerja atau PHK di berbagai perusahaan (dan sepertinya di AS tingkat pengangguran pun bertambah melebihi tahun-tahun sebelumnya pra-krisis tsb), pegawai-pegawai yang tidak terkena imbas PHK, berusaha mensyukuri akan pekerjaan tetapnya (makanya jangan mau jadi pegawai seumur hidup! – kata pengusaha sukses). Mereka yang terkena imbas PHK pun, bukan berarti mereka tersedih tersedu-sedu dan akhirnya sulit mencari kembali pekerjaan. Ya, mungkin tidak bisa digeneralisir seperti itu, tapi banyak orang (terutama di industri yang saya geluti sekarang ini), bahagia menerima uang pesangon dan merasa tidak sulit untuk mencari pekerjaan gantinya. Justru, dengan begitu, mereka memiliki tabungan (apa, tabungan?) dari pesangon PHK mereka (makanya jangan mau jadi pegawai seumur hidup! – kata pengusaha sukses).

Terkait urusan rumah tangga, saya melihat untuk manusia-manusia di usia saya sekarang ini (dan bukan berarti saya menyindir para manusia yang lebih tua dari saya), banyak yang telah menentukan pilihan hidupnya dan memutuskan untuk menempuh sisa hidup di dunia ini dengan pasangannya. Beberapa resepsi pernikahan yang saya hadiri, cukup bervariasi dan membuat saya pun menyadari bahwa ukuran sepatu hitam saya rupanya terlalu besar, sangking jarangnya saya pergunakan untuk pergi ke undangan dan baru tahun ini saya sering sekali pakai. Dengan bangganya saya menyatakan menolak untuk membeli sepatu Ki**ers yang dibandrol discount akhir tahun 30%..-_-. Kembali ke pembahasan awal, apapun itu, saya pribadi percaya bahwa urusan jodoh berada di tangan Yang Maha Kuasa. Dan, bagi yang percaya bahwa menikah merupakan salah satu ajaran untuk menyempurkan ibadah kita di dunia ini, saya melihat sendiri rekan-rekan saya yang – masa persiapan dan menjelang pernikahannya – diberikan kemudahan dan rejeki. Subhanallah. Untuk yang ini pun, penulis merasakannya secara pribadi. Alhamdulillah. Mengutip salah satu lirik penyair terkenal Indonesia, berbuat baik janganlah ditunda-tunda.

Bagi yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, tahun 2009 ini mungkin tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Padahal, kita punya PRESIDEN baru di tahun ini (ya muka lama wakil baru memang). Satu hal kecil saja, perihal yang hampir setiap orang yang beraktifitas di kota Jakarta ini alami setiap hari. Macet. Siapa yang tidak kenal dengan macet di Jakarta? Tidak ada. Kecuali, mereka yang setiap hari pergi dan pulang dengan tidak menggunakan kendaraan roda dua, roda empat, ataupun kendaraan umum. Saya melihat, mau siapapun gubernur yang menjabat, masalah kemacetan ini mau tidak mau, lambat cepat, pasti akan dihadapi untuk kota – dimana perputaran uang di negara kita masih berkumpul di sini – besar dan menjadi target kedatangan penduduk dari wilayah lain. Ada semut ada gula, ya selama gula masih bertebaran, semut pun akan kungjung datang. Begitulah kira-kira kondisi yang dihadapi kota Jakarta ini. Semakin hari, semakin banyak penduduk yang datang, dan tidak menutup kemungkinan, suatu saat nanti, kota ini akan terlelep. Bisa? Ya, bisa. Kota ini berada di bawah permukaan air laut, dan pembangunan serta pemukiman yang semakin bertambah banyak…ya, ini bila dilanjutkan akan berujung pada pembahasan seputar masalah teknis – lebih baik cukup sampai di sini.

Selain penduduk-penduduk yang datang, semakin menarik bahwa jumlah kelahiran manusia baru di kota ini pun tidak sedikit dan perbandingannya jauh lebih banyak ketimbang jumlah kematian manusianya. Saya rasa, ini pun dialami di sebagian kota-kota besar di dunia yang padat penduduknya. Sebagai contoh kecil saja, rekan kerja saya di kantor yang cubiclenya berjarak tidak jauh dari cubicle saya (makanya jangan mau jadi pegawai seumur hidup! – kata pengusaha sukses), sudah tiga wanita yang melahirkan di tahun ini. Untuk yang ini pun, penulis merasakannya secara pribadi pada istri, yang InsyaAllah akan melahirkan di awal-awal tahun depan. InsyaAllah.

Bagi sebagian orang seperti saya, yang mengikuti perkembangan dunia IT & gadget – secara awam-sebagai end user saja-, sedikit banyak mengalami trend baru. Fenomena yang ada semisal, harga handphone yang mulai tersaingi dengan hadirnya smartphone Blackberry. Demam Blackberry ini pun diiringi dengan hadirnya pesaing smartphone lainnya, iPhone. Tidak tertutup, laris-manisnya gadget ini pun akibat semakin berkembangnya dunia internet dan dunia sosial maya yang ada sekarang ini. Blog? Oke, ini sudah cukup lama. Tapi, fenomena munculnya cara orang berkomunikasi baru, semisal Twitter. Berita pun begitu cepat menyebar lewat situs sosial ini. Yang cukup miris belakangan terdengar, bahwa biaya bulanan orang-orang yang terkena syndroma Blackberryzm, setara dengan biaya uang sekolah untuk anak-anak di sekolah dasar yang kurang mampu. Ini PR untuk kita semua, bukan hanya pemerintah, terkait dengan pendidikan manusia Indonesia. Semua berhak untuk pendidikan yang layak. Semua berhak untuk penghidupan yang layak. Semua berhak untuk meraih mimpi dan cita-citanya. Semua…semua…dan semua…tinggal, bagaimana kita menyeimbangkan hak-hak itu dengan kewajiban-kewajiban kita yang harus dilaksanakan..:)

Akhirnya, tahun 2009 ini akan segera berakhir dan akan diganti dengan tahun baru 2010. SELAMAT TAHUN BARU 2010.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s