Puasa datang…Jalanan tetap terang…

Hari ini, tepat seminggu berpuasa di bulan Ramadhan. Tepatnya, di Jakarta.

Satu perubahan yang unik setiap saat terjadi di bulan puasa ini adalah mengenai perubahan jam macet di lalu-lintas kota Jakarta ini. Untuk hari-hari normal, waktu macet berkisar di pagi dan sore hari, saat orang berangkat untuk beraktifitas di pagi hari, dan saat sore, ketika orang pulang dari aktifitas menuju rumah. Jam waktu macet ini pun bermacam-macam untuk setiap daerahnya. Beberapa tempat yang dekat dengan sekolahan, tentunya akan mengalami lalu-lintas yang lebih padat di pagi hari, karena banyak anak sekolahan yang diantarkan menggunakan kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat.

Ketika bulan puasa, jam macet ini berubah. Orang cenderung untuk datang lebih pagi ke kantor, dan pulang lebih cepat. Tentunya, semua ingin berbuka puasa dengan nikmatnya di tempat tinggal masing-masing, baik rumah, kostan, apartment, ataupun kontrakan. Dan, sekitar jam 7 malam, saat di mana orang muslim melaksanakan shalat taraweh, jalanan terlihat cukup lenggang. Ini yang menarik.

Kenapa menarik? Kita sering kali mendengar bahwa Jakarta adalah kota metropolitan, apapun ada dan bisa terjadi di sini. Bahkan, entah kenapa, lebih banyak hal negatif yang terekspos di media masa, dibandingkan hal positif. Banyak orang berasumsi, Jakarta merupakan kota maksiat, kota yang tidak beriman, banyak terjadi perilaku-perilaku yang di luar norma-norma agama, dsb. Tapi, siapa yang menyangka, bahwa sebagian besar masyarakat Jakarta ternyata melaksanakan shalat teraweh di masjid ketika bulan puasa?

Jika Anda tidak percaya, silakan anda keluar rumah menggunakan kendaraan (baik roda dua atau empat), dan rasakan bagaimana ‘cukup’ lenggangnya jalanan sekitar pukul 19.00 WIB sampai dengan 20.00 WIB. Lenggang untuk ukuran kota Jakarta, tentunya akan berbeda dengan lenggang di pedesaan ataupun kabupaten. Masyarakat Jakarta seakan terbiasa dengan kemacetan dan waktu tempuh yang berjam-jam di jalanan, dengan kecepatan tempuh 0-5 km/jam, ataupun 5-10 km/jam, terbiasa dengan kata-kata ‘padat merayap’, ‘berhenti’, ‘ramlan’ (singkatan dari ramai lancar), dsb. Semua seolah-olah menjadi bagian dari aktifitas yang tidak terpisahkan. Jadi, jangan heran ketika seseorang yang tinggal di Jakarta mengatakan bahwa jalanan lenggang, padahal kecepatan tempuhnya tidak melebihi dari 40 – 50 km/jam.

Ketika seseorang berkendara di jalanan DAN sambil berpuasa, terlihatlah wajah-wajah kalem dan penuh kesabaran. Entah itu macet total, entah itu ada truk patas as di tengah ruas jalan, entah itu padat merayap, bahkan ketika hujan mengguyur Jakarta (dan entah apa sebabnya) sehingga macet di mana-mana. Ya, mereka tetap ‘terang’…sembari berpuasa.

Lihatlah…dan pikirkan barang satu menit saja, ternyata masih ada perasaan-perasaan ikhlas dan putih itu di kota ini. Janganlah kita memperburuk kondisi kota ini dengan selalu berpikiran negatif dan menyeramkan. Lihatlah…kota ini pun mampu menunjukkan dengan sendirinya, bahwa masih banyak orang yang beribadah dan menjalankan kewajiban beragamanya dengan penuh kesadaran…

Go Jakarta…Go Indonesia…

http://twitter.com/tomy_momy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s