“dapur pribadi” => merdeka?

Hari ini, berangkat memang kesiangan…Tapi, satu setengah jam saja dari rumah ke kantor (dengan jarak tempuh hanya 11 kilometer). Dan…pulang dari kantor, lagi2 kena macet karena cuaca yang mendung, padahal belum hujan (lalu, kenapa ya kalau hujan, jalanan jadi macet?). Kenapa seperti ini selalu terjadi di kota Jakarta, yang mana ibu kota negara Indonesia? Apa nggak malu dengan negara lain? Ibu Kota koq kerjaannya buang-buang waktu di jalan aja, ngantri, dan ngabis2in bahan bakar minyak, padahal sekarang sedang gencar2 orang untuk berhemat BBM dan melawan GLOBAL WARMING! Hah! HAh! HAHAHAHA!!!!!! Mau jadi apa kalo kerjaannya begini terus!???!

Pernah sedikit terlintas dibenak…Berapa persen konsumsi BBM yang dipergunakan untuk transportasi di Indonesia ini? Seandainya persentase itu besar nilainya dibandingkan penggunaan untuk hal lain, maka sepertinya kota Jakarta ini menjadi satu mimpi buruk yang mengerikan. Lihatlah, semakin hari, semakin padat, dan kemacetan semakin tidak bisa dihindarkan lagi. Dan, sementara pemerintah berusaha terus menghemat penggunaan BBM yang semakin hari semakin langka dan semakin mahal di perdagangan dunia, kota Jakarta justru memperlihatkan satu hal yang kontradiktif dengan usaha pemerintah. Ada apa dengan ini semua? Tidak bisakah kita membenahi transportasi dalam kota ini…? Padahal, kaitannya sangat erat dengan isu GLOBAL WARMING yang sedang menjadi bahan pembicaraan di dunia saat ini. Sangat ironi melihat ini semua… Mungkinkah semua ini memiliki motif ? Seandainya…, dan (lagi-lagi) seandainya…, kita mau sedikit berpikir demi kepentingan bersama, dan tidak saling egois untuk mengejar harta kekayaan masing-masing, dan mau membuka mata terhadap kemajuan negara lain di dunia ini (masih di planet bumi, belum di planet lain), maka seyogyanya ada sedikit getaran di hati kita ini untuk mau merelakan sedikit saja kepentingan pribadinya untuk diabdikan kepada khalayak umum, demi kemajuan bersama (mohon coba sedikit berpikir positif dengan tidak mengartikan kata ‘bersama’ ini dengan korupsi-kolusi-nepotisme).

KPK yang ada sekarang ini tidak mungkin ada seandainya kita mau berpikir bersama-sama untuk satu tujuan, meneruskan pembangunan, mengisi kemerdekaan negara ini. Tapi, sepertinya yang ada sekarang, kita menginginkan untuk ‘dijajah’ kembali secara perlahan, dan memiliki ‘kemerdekaan’ di dapur pribadi. Alangkah egoisnya manusia-manusia kita ini. Padahal, dari segi religi, kita mengakui 5 kepercayaan dan aliran kepercayaan lainnya. Lalu, kemana norma-norma agama itu semua…? Belum saatnya rupanya kita berdemokrasi…yang ada hanya demo-crazy…atau cracy-demo? whatever…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s