BBM Naik…rusuh, penting apa?

Yup! BBM akhirnya naik juga dengan angka kenaikan sekitar 27,8 %. Oke. Tapi, ternyata tetep aja subsidi pemerintah ke rakyat belum habis. Walaupun memang bisa mengurangi angka subsidi ke rakyat miskin. Rakyat miskin…hmmm ya…rakyat miskin, apakah dengan BBM Naik, lalu subsidi pemerintah ke rakyat berkurang, alisa beban pemerintah sedikit berkurang, lalu beban rakyat miskin juga bisa sedikit berkurang? Sepertinya belum. Belum, bukan berarti ‘tidak’. Dalam artian, masih ada peluang untuk ‘iya’.

Nggak perlu mendefinisikan rakyat miskin itu siapa atau kalangan mana. Biar saja, orang terkaya se Asia Tenggara pun tau, kalo dari 225 juta rakyat kita, 16.58% penduduknya masih berada di bawah garis kemiskinan (BPS No.38/07/Th.X,2 Juli 2007). Belum lagi rakyat yang masih tertahan kasus-kasus yang belum ada solusinya hingga kini, seperti kasus lumpur yang muncrat di sana-sini, kasus penyakit dengan sumber virus unggas, dan sebagainya.

Sementara kalau kita pikir-pikir, siapa siy yang tidak merasa susah ketika harga kebutuhan pokok naik, harga transportasi naik, harga ini, harga itu, naik semua? Yang jelas, akan terjadi impact terhadap cashflow atau keuangan masyarakat. Sampe sini, rasa-rasanya, kita sama sepakat kalau semua mengalami efek buruknya dari naeknya BBM ini (terlepas dari kaum2 kapitalis penikmat minyak dunia, yg dengan sangat menyesal harus dikatakan bahwa Indonesia, negara dengan cadangan migas yg besar, tidak termasuk kaum itu). Lalu, entah kenapa, orang yang sama-sama dibikin susah, justru saling sibuk dengan hal-hal yang ‘dirasa’ tidak penting. Kasus bentrok mahasiswa yang demo akibat BBM naik, dengan polisi, yang berujung dengan kerusuhan dan adanya tudingan tindakan anarkis. Media masa justru sibuk memberitakan pelanggaran HAM, penemuan narkoba di lingkungan kampus, tindakan mahasiswa yang mengganggu kepentingan publik, dsb…dsb…. Lalu, untuk apa semua ini?? Apa hubungannya dengan BBM yang naik? Bukankah, kedua belah pihak, mengikuti kesepakatan di atas, sama-sama dirugikan akibat BBM yang naik ini?

Penting apa? Apa penting? Apanya yang penting?!?

Nasionalisme atau…? (2)

Baru aja selesai perjuangan timnas bulutangkis kita di ajang Thomas & Uber Cup 2008. Walaupun Indonesia tidak menjadi juara, namun setidaknya ada satu point penting yang bisa kita gunakan untuk mendasari ratusan permasalahan yang ada di negara kita saat ini, yaitu jiwa nasionalisme.

Lagi, sepertinya musuh bersama ini bisa mempersatukan negara kita. Satu artikel di internet, terdapat kata-kata yang mengatakan ‘mereka rindu rasa kebangsaan’. Mereka disini adalah rakyat kita yang senantiasa sabar oleh nasib terdzalimi dari para kaum penindas egois dan perusak persatuan. Entah kenapa, walaupun tak pernah merasakan hidup di era presiden pertama RI (Ir. Soekarno), namun jiwa dan rasa nasionalisme nya yang begitu tinggi ini masih bisa terasa lewat untaian sejarah.

Apa sebenernya yang orang lihat di negara kita ini? Tiba-tiba terlintas di benak, sejauh mana karier politik seseorang itu? Rasanya, malu melihat banyaknya partai di negara kita seandainya tujuannya masih saja seputar meraih kesohoran dan puncak materi, sementara rakyat yang menjadi tanggungannya terus saja menangis kelaparan. Tak ada yang salah dengan berpolitik, selama dilakukan dengan sehat dan sportif.

Di saat ramai pembicaraan orang seputar kenaikan harga BBM dan bahan-bahan pokok, sejumlah protes datang dan sejumlah khalayak berusaha memberikan solusi alternatif. Namun, sepertinya sejumlah ‘oknum’ dengan bahagia mentertawakan negara kita dari balik dinding yang tak terlihat. Siapa sebenernya dia ini…?

To be continued…

“dapur pribadi” => merdeka?

Hari ini, berangkat memang kesiangan…Tapi, satu setengah jam saja dari rumah ke kantor (dengan jarak tempuh hanya 11 kilometer). Dan…pulang dari kantor, lagi2 kena macet karena cuaca yang mendung, padahal belum hujan (lalu, kenapa ya kalau hujan, jalanan jadi macet?). Kenapa seperti ini selalu terjadi di kota Jakarta, yang mana ibu kota negara Indonesia? Apa nggak malu dengan negara lain? Ibu Kota koq kerjaannya buang-buang waktu di jalan aja, ngantri, dan ngabis2in bahan bakar minyak, padahal sekarang sedang gencar2 orang untuk berhemat BBM dan melawan GLOBAL WARMING! Hah! HAh! HAHAHAHA!!!!!! Mau jadi apa kalo kerjaannya begini terus!???!

Pernah sedikit terlintas dibenak…Berapa persen konsumsi BBM yang dipergunakan untuk transportasi di Indonesia ini? Seandainya persentase itu besar nilainya dibandingkan penggunaan untuk hal lain, maka sepertinya kota Jakarta ini menjadi satu mimpi buruk yang mengerikan. Lihatlah, semakin hari, semakin padat, dan kemacetan semakin tidak bisa dihindarkan lagi. Dan, sementara pemerintah berusaha terus menghemat penggunaan BBM yang semakin hari semakin langka dan semakin mahal di perdagangan dunia, kota Jakarta justru memperlihatkan satu hal yang kontradiktif dengan usaha pemerintah. Ada apa dengan ini semua? Tidak bisakah kita membenahi transportasi dalam kota ini…? Padahal, kaitannya sangat erat dengan isu GLOBAL WARMING yang sedang menjadi bahan pembicaraan di dunia saat ini. Sangat ironi melihat ini semua… Mungkinkah semua ini memiliki motif ? Seandainya…, dan (lagi-lagi) seandainya…, kita mau sedikit berpikir demi kepentingan bersama, dan tidak saling egois untuk mengejar harta kekayaan masing-masing, dan mau membuka mata terhadap kemajuan negara lain di dunia ini (masih di planet bumi, belum di planet lain), maka seyogyanya ada sedikit getaran di hati kita ini untuk mau merelakan sedikit saja kepentingan pribadinya untuk diabdikan kepada khalayak umum, demi kemajuan bersama (mohon coba sedikit berpikir positif dengan tidak mengartikan kata ‘bersama’ ini dengan korupsi-kolusi-nepotisme).

KPK yang ada sekarang ini tidak mungkin ada seandainya kita mau berpikir bersama-sama untuk satu tujuan, meneruskan pembangunan, mengisi kemerdekaan negara ini. Tapi, sepertinya yang ada sekarang, kita menginginkan untuk ‘dijajah’ kembali secara perlahan, dan memiliki ‘kemerdekaan’ di dapur pribadi. Alangkah egoisnya manusia-manusia kita ini. Padahal, dari segi religi, kita mengakui 5 kepercayaan dan aliran kepercayaan lainnya. Lalu, kemana norma-norma agama itu semua…? Belum saatnya rupanya kita berdemokrasi…yang ada hanya demo-crazy…atau cracy-demo? whatever…

Sementara aja…

Sampai kapan kita semua berada dalam keterpurukan yang nggaaaaak akan ada habisnya…? Sampai kapan, media2 di dalam negeri teruuuuuus memberitakan kabar menyedihkan untuk Indonesia…?? Sampai kapan kita mau berdiam diri untuk terus hanya menyaksikan dan nggak bisa berbuat apa2…?

Ironis untuk seorang manusia yang baru menghadapi dunia keras untuk mencari masa depan…Layaknya bayi yang baru lahir, aku melihat dunia ini begitu kompleksnya. Semua hal ini itu berkaitan satu dengan yang lainnya, yang seakan bisa begitu saja memusnahkan impian dan cita2ku yang ada di depan diriku ini…

Kenapa manusia begitu serakah dan tak pernah terpuaskan dengan hal-hal yang sudah ada? Pertanda ketika laki-laki dan perempuan sudah tidak berada dalam kodrat yang seharusnya, adalah benar. Kini, semua berlomba-lomba terus mencapai puncak kejayaan yang tak kunjung berakhir… Sampai suatu ketika, di mana semuanya musnah ditelan Sang Pencipta, dan mereka menyadari bahwa semua ini hanyalah sementara adanya.

Manusia dianugerahi kemampuan untuk berpikir, sudah sepantasnya menggunakannya dengan semaksimal mungkin. Namun, Sang Pencipta telah memberikan kepada kita batas-batas tertentu yang itu semua adalah Kehendak-Nya.

Berusaha keras, berdo’a, dan pasrah kepada-Nya…

Semoga hari esok selalu lebih baik dari hari ini…

Reduksi (pertambahan) Penduduk dari SEKARANG!

Indonesia…dari dulu sampe sekarang, menurut informasi yang dapat dipercaya, memiliki grafik pertumbuhan penduduk yang eksponensial! Bayangkan…sementara di negera eropa, seperti jerman, pertumbuhan penduduknya sampai saat ini minus…

Salah satu permasalahan dunia sekarang yang sedang serius dibicarain yaitu masalah global warming… Hmmm…Kayaknya belum banyak orang yang bener2 serius (baca: sadar!) akan fenomena ini… Padahal, yang namanya green house effect atau efek rumah kaca itu dah dari sekolah dasar kita diajarin sama guru kita… Suhu bumi yang semakin hari semakin panas ini ternyata bukan hanya menyebabkan habitat alam yang musnah, tapi juga kemungkinan adanya manusia2 yang tidak mampu bertahan dengan keadaan sekitarnya. Manusia sendiri memiliki tingkat adaptasi ke lingkungan yang berbeda-beda dan tidak dapat disama-ratakan. Sementara, kita semua hidup di satu planet yang sama, yaitu Bumi – planet ketiga terdekat dari matahari, sebagai salah satu sumber panas di jagat raya ini.

Mari kita sama-sama mulai memikirkan pijakan kaki kita yang tidak bertambah dari hari ke hari ini. Sementara, kaki yang memijak semakin hari semakin bertambah dibandingkan pengurangannya. Lalu apa pengaruhnya? Ambil satu contoh yang paling mudah adalah kota Jakarta. Sebagai ibu kota negara Indonesia, jakarta memang merupakan kota yang paling maju, dilihat dari perekonomian, kehidupan masyarakatnya, budaya serta kehidupan beragamanya. Namun, dibalik semua itu, ternyata Jakarta juga salah satu kota dengan tingkat polusi dan kepadatan yang paling besar di negara Indonesia. Ada plus, dan ada minus. Apabila, seluruh aspek ditinjau dan diperhitungkan efek plus-minus nya, lalu bisakah Anda menebak apakah hasilnya? Hasil yang cenderung negatif ibarat kita berjalan di tempat, sementara waktu terus berputar.