Kemana Indonesia melangkah?

Nggak habis pikir dengan mau kemana Indonesia ini di bawa oleh bangsa lain? Serasa belum merdeka… Wong sekarang sepertinya gampang banget di adu domba, seperti tidak punya pendirian. Padahal, contoh kasus sederhananya saja, kalau punya rumah tangga pribadi, mana mau kehidupannya di atur sama keluarga tetangganya?! Sekarang, Indonesia di atur2 sama Malaysia aja mau… Petronas di mana-mana muncul… Pertamina? Mana ada di malaysia… (kalao ada, ya mungkin gue yg nggak tau infonya).

Apa yg bikin kita ini seolah2 pusing di kandang sendiri? Padahal, sebenernya kita bisa ‘bermain’ di kandang sendiri, tanpa perlu ngajakmain ‘teman’ lain di luar kandang… Tapi, nyatanya, ‘bermain’ di kandang sendiri nggak seasyik kalau ‘bermain’ dengan ‘teman’ lain di luar kandang… Ibarat maen game, yang ada cuma friendly match teruusss…Nggak pernah ikutan Play-Off atau Cup, apalagi International Cup. hehe… Satu perumpamaan yang awam bagi pecinta game olahraga khususnya… Ibarat kata, kalau cuma ‘main’ nggak pake lawan tanding beneran, nggak seru…MEMANG! Tapi, kalau tiap tanding, yang ada KALAH TERUS, lama-lama kan males juga..Ya nggak? Beda seandainya awal2nya kalah, tapi setelah itu bisa menang, bahkan bikin lawan tanding kita menyerah karena kapok lawan tanding dengan kita.

Sebentar lagi akan ada Pemilu 2009, dan tahun ini sepertinya jadi tahun kejar tayang untuk program kerja pemerintahan sekarang. Ntah siapa lagi calon presiden yang bakalan maju…Orang2 lama dengan rezimnya masing-masing sepertinya nggak pernah ‘bosan’ dengan mencicipi kursi panas di Indonesia Raya-Raya ini. Pemilu tahun 2004 lalu dianggap sebagai langkah besar untuk Indonesia karena dapat menjalankan sistem demokrasi yang baik. Tapi, apa benar sistem demokrasi ini sebenernya sudah sesuai dengan negara kita?

Seminggu yang lalu sempat berbincang dengan temen, kebetulan lulusan dari program studi Hubungan International. Dia mengangkat topik ringan pembicaraan mengenai sistem demokrasi di negara kita. Dan sepertinya memang benar, demokrasi yang kita pergunakan di negara kita ini seolah-olah sama saja seperti kerbau yang dicucuk hidungnya…Di bawa kemana-mana oleh penguasa asing begitu mudahnya, diobrak-abrik kekayaan alamnya, “dilucuti” Sumber Daya Manusia-nya oleh negara tetangga, bahkan kemampuan berpikirinya seolah-olah di redam dengan banyaknya manusia pintar Indonesia yang saat ini tidak berpijak di tanah airnya. Padahal, dengan kekayaan alam yang begitu berlimpah, pariwisata tanah air yang begitu kaya akan budaya yg beraneka ragam, dan SDM yang berlimpah, seharusnya menjadi point penting kebangkitan negara kita… Pemberdayaan SDM yang kurang menunjukkan pemerintahan yang masih bingung dengan jumlah penduduk negara kita yang terus meningkat… Jaman Soeharto, sepertinya sangat sering menggalakan program KB (Keluarga Berencana), yang sepertinya hampir setiap iklan di televisi2 swasta, kita bisa menyaksikan iklan layanan masyarakat ini..Tapi, kenapa sekarang tidak ada lagi gaungnya…? Padahal, rumusan luas wilayah dan kepadatan penduduk, ditambah dengan prinsip ekonomi (supply-demand), sepertinya bisa sedikit mentonjolkan bahwa negara kita terlalu padat penduduknya… Kalaupun padat, seharusnya mampu tersebar secara merata, dengan Indeks Pembangunan yang merata juga. Sehingga, jumlah penduduk yang terus bertambah ini bukan lagi menjadi beban bagi perekonomian negara, melainkan sebagai nilai tambah, karena SDM yang berkualitas mengalami regenerasi yang konsisten.

Apa yang mampu kita lakukan sekarang, seandainya saat ini, suara kita hanya mampu dibaca lewat blog seperti ini? Sementara, saat ini, Menkominfo Indonesia memblokir situs youtube, myspace, dsb., hanya karena adanya film ‘fitna’ dari belanda (musuh kita dulu tuh!). Pemblokiran seperti itu hanyalah pembodohan untuk rakyat menurutku… Jelas lah, orang2 yang mampu mengakses situs2 tersebut minimal orang yang tidak gagap teknologi, minimal mengetahui arti internet dan bagaimana mengoperasikan komputer, sehingga dapat dikatakan manusia yang mampu berpikir… Seandainya, pemerintah berlaku seperti ini, apa jadinya setahun atau 2 tahun kedepan, dimana isu2 politik, isu2 yg mengandung SARA, bisa dengan mudah menyebar dengan adanya internet saat ini. Ketidakterbatasan ruang jelajah informasi saat ini membuat penangan dari sebuah ‘serangan’ sudah sepatutnya dipikirkan matang-matang terlebih dahulu dengan mempertimbangkan apa dampaknya terhadap tindakan antisipasi tersebut… Sekarang bisa kita lihat, negara kita memblokir situs2 tertentu, dan negara2 lain di luar akan dengan mudahnya mengatakan “ternyata Indonesia mudah sekali disetir dengan sebuah film murah oleh elit politik yang tak berpendidikan sekalipun”…Selanjutnya, kita lihat saja šŸ™‚