Nasionalisme atau…? (1)

Semalam, setelah pertandingan Chris John melawan Caballero (Panama), dan Indonesia berhasil menang, rasanya senang dan bangga dengan tanah air ini. Tapi, kenapa, kenapa kebanggaan itu sifatnya hanya sementara saja? Kenapa, ya, kenapa kita hanya bisa bersatu di saat kita tidak menanggung beban apa2, kemudian orang lain menanggung beban itu, dan mengatasnamakan tanah air kita, lantas kita baru bisa bersatu, HANYA di saat kondisi seperti itu? Egoiskah? Kalau ini jawabannya, dangkal untuk di bahas.
Perasaan batin berperang ketika mengetahui bahwa tanah air ini milik kita, milik aku juga, dan milik kamu. Tapi, sepertinya tanah ini bukan lagi milik aku, milik kamu, milik kita…Tapi, sebagian besar sudah milik mereka… Bangsa-bangsa kapitalis yang siap menerkam dari belakang, entah dengan seribu cara apapun, untuk menghancurkan bangsa ini.
Kenapa kita harus dipaksa untuk melibatkan orang lain (bangsa lain) kalau kita bisa menyelesaikan masalah dalam dapur kita sendiri? Ini hak kita! Bayangkan jika ada sebuah rumah tangga yang setiap saat harus mengundang tetangganya satu RT atau RW, hanya untuk menyelesaikan polemik seputar keributan di dalam keluarganya? Sementara, mereka (tetangganya itu) hanya ingin keluarga ini tidak berisik sehingga tidak mengganggu waktu tidur mereka ketika malam. Tapi, alangkah baiknya, jika keluarga ini bisa tidak hanya tidak berisik, melainkan bisa juga memberikan hadiah-hadiah, bingkisan, atau masakan lezat ke tetangga2nya…Siapa yang tidak ngiler tinggal di perumahaan dengan kondisi seperti itu?
Nah, sekarang, keluarga2 yang ngiler itu analogikan sebagai orang2 asing yang datang ke negara kita.
Berangkat dari latar belakang pekerjaan ku sekarang di bidang oil&gas services, aku sendiri bingung luar dalam.Pertanyaan yang keluar dibenakku sekarang adalah, sampai kapan bangsa kita diperbudak oleh bangsa lain di TANAH AIR nya sendiri? Mengapa, dan mengapa? Padahal, 100% keyakinan ini mengatakan, seandainya kita bersatu, jiwa-jiwa nasionalisme itu akan lahir di benak kita semua. Ironis rasanya, diperbudak oleh bangsa lain di negeri sendiri…! Berasa seperti…belum MERDEKA! Padahal, sudah semenjak tahun 1945.
Mari pupuk di patri sanubari kita semua, jangan mengalah oleh bangsa lain, seolah-olah kita ini bangsa bodoh seperti boneka yang bisa diputar ke kanan-ke kiri. Kita bisa seperti mereka. KITA BISA! Andaikan…mampu mengendalikan ego masing-masing, dan bertujuan bersama membangun tanah air ini.
ANDA yang membaca tulisan ini, dan sekarang memiliki banyak sekali kekayaan di luar sana…Cobalah satu saat berkaca di depan cermin, dan pandanglah baik-baik kedua mata ANDA. Ada pelangi? Bukan, itu siy lagu JAMRUD (“ada pelangi, di bola matamu“). Tapi, lihatlah, apa gunanya menanamkan kekayaan di negara orang, semata-mata hanya untuk mengisi perut sendiri dan sanak 7 turunan? APABILA, tanah air sendiri masih belum MERDEKA…sampai saat ini.
…to be continued…
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s