Jakarta dan (maaf ya) sepeda motor…

Note: tulisan ini bukan bermaksud melakukan diskriminasi terhadap pengendara motor dan mobil ataupun pengguna angkutan umum…Hanya sebuah kritik pedas terhadap penerus bangsa yang seharusnya menjunjung tinggi otak2nya untuk memecahkan permasalahan yang ada di depan mata, bukan dengan drugs atau sex bebas.

=================================================================

Kenapa ya, jakarta makin macet dari hari ke hari…? Makin nggak masuk akal, kalau untuk nempuh jarak dari rumah ke kantor aja, yang kalau pake mobil, cuma kira2 10-11 km, itu ditempuh selama 2 jam…! Berarti, kalau dihitung, kecepatan rata2 nya sekitar….5.5 km/hour… whew! Nggak logic…

Sepertinya, kemacetan ini juga diimbangi bukan dengan pembangunan jalan2 baru, ataupun pelebaran dan sebagainya, malah diimbangi dengan jumlah sepeda motor yang semakin banyak dari hari ke hari… Kalau bener kabar bahwa setiap hari nambah 1000 motor baru di jakarta, coba yah kita hitung dalam satu bulan aja….oke, 30 x 1000 = 30.000 motor! Dan, dalam satu tahun, 12 x 30.000 = 360.000 motor… Hmm…

Lalu, kenapa orang lebih memilih naik motor dibandingkan naik moda transportasi umum? Hmm…Mungkin, pertimbangan biaya ongkos jadi nomer satu. Ini mengenai masalah kemampuan finansial dan golongan masyarakatnya. Tapi, seandainya boleh mengkhayal, punya moda transportasi yang nyaman, aman, dan cepat, siapa siy yg mau repot2 bayar bensin dan nyetir motornya sendiri, apalagi kalau udah ujan? Orang bakal milih naek yang gampang donk tentunya? Buat apa susah kalau ada yang gampang,,eh, tanya kenapa?

Oke, balik lagi ke masalah motor… Mungkin nggak yah, produksi motor di jakarta…mmm atau di suatu kota aja, dibatasin? Berhubung ilmu gue mengenai birokrasi dan sistem di negara laen sangat minim,…so, gue nggak gitu tau ini bisa apa nggak… Yang jelas, kalau emang bisa, kenapa nggak dibatasin aja ya? Dan moda transportasi umum semacam busway, KRL express, bus umum (nggak mau nyebut namanya, karena menurut gue, disupirin sama nggak disupirin, tuh bus nggak ada bedanya), dan MONORAIL yang ditunggu2 dari tahun kuda pake popok bayi, itu semuanya digalakkan!

Hmm…(maksudnya bertanya2), jakarta itu kan pusat pemerintahan indonesia ya? Hmm (maksudnya bertanya2 lagi), jakarta itu kan punya gubernur ya? Hmm (maksudnya bertanya2 untuk kesekian kalinya), kerjanya apaan ya? Koq, macet dipelihara…. Padahal, sekarang lagi musimnya global warming, dan orang melihara dan nanem pohon2 hijau (walaupun ini juga nggak jelas untuk apa, paling ujung2nya bikin program2 menanam sejuta atau semilyar pohon, tapi teteup aja, itu minyak dihabisin buat konsumsi publik tanpa batas…).

Oh iya, tadi pagi keinget sesuatu yang cukup aneh… Sekarang di dunia harga minyak semakin melangit,,,Sedangkan pemerintah, nggak berhenti-hentinya mensubsidi harga minyak (sebagian)… Trus, ada hubungannya sama kemacetan niy,, kalau harga minyak terus melangit, otomatis, harga bahan bakar bakal naek juga, dan kita di JAKARTA ini, bukannya semakin ngurangin kendaraan, malah semakin nambah dari hari ke hari (ya potret nyatanya dari kemacetan ini)…

Kalau Indonesia, yang rakyatnya ketiga terbanyak setelah Cina dan India, nggak bisa mecahin permasalahan kemacetan di PUSAT PEMERINTAHANNYA, apalagi di daerah2nya…? Bayangin, kalau suatu saat, kita keluar rumah aja nggak bisa ngebut gara2 udah harus ngantri macet di jalanan… Dengan arus yang tanpa solusi, sepertinya konsumsi minyak akan terus jadi andalan masyarakat sampe beberapa tahun kedepan (sebelum habis mungkin?), sementara dunia makin asyik menggoyang harga minyak dan tertawa ngeliat Indonesia… Siapa tau, suatu saat, minyak dituker dengan ginjal orang…? Wah…ngeri ah.

Back to motor lagi, intinya mah…Jangan pernah berpikir kalau naek motor itu akan lebih baik dari naik mobil (catat: saya bukan sales/marketing produsen mobil loh!), karena itu akan menambah kemacetan yang lebih parah…Kalau sudah naek mobil, mendingan terus naek mobil, dirawat mobilnya, biar nggak polusi dan selalu lulus eji tes emisi… Kalau dirasa naek mobil udah ‘nggak logis’ lagi kayak gue (baca: kecepatan 5,5 km/hour), silakan gunakan moda transportasi umum yang nggak layak pakai itu….(maaf ya, tapi ini demi masa depan anak cucu kita). Beralih ke motor, nggak memecahkan masalah yang udah ada…hanya upaya untuk menahan kantong biar nggak kempes (baca:tongpes), dan memupuk modal semakin banyak untuk menjadi oportunis sejati..

Being a problem solver is a journey to create a kingdom of your own…and public.