Karena Kau Satu-satunya…

Dalam khayal, gundah aku
Berjalan menyusuri bayangmu
Dalam hina, sedih hatiku
Menyikap hasrat yang ingin kita ungkap

Bertanya-tanya ingin kau pergi, gapai relungnya
Kutak ingin mereka rasa dalam hatiku

Karena kau satu-satunya yang terindah,
Yang tercantik, terbaik untukku
Karena kau satu-satunya yang kucinta,
Yang kukenang dan tak kan kulupa

Terisakku mengenangmu, saat derai tawa itu mengalir
Membayangkan saat terindah
Waktu kita bisa saling memiliki

Mungkin kita tak bisa bersama lagi
Tapi ingatlah bahwa cinta itu pernah ada…

Kecerdasan Hati Untuk Menentukan Kebaikan

Manusia memiliki sebuah alur pemikiran yang terkontrol dalam benaknya. Hal itu dikendalikan oleh otak. Tetapi, seringkali perbenturan sebuah keputusan mendapatkan intuisi dari hati nurani.
Ketika seseorang memiliki kecerdasan intelegensi yang tinggi, maka jelas bahwa peran otaklah yang membangun citra kecerdasan itu. Tapi, jangan kita lupakan bahwa intuisi merupakan suatu hal yang tidak bisa kita lupakan begitu saja. Ketika seseorang lebih banyak menggunakan intuisi atau perasaannya daripada menggunakan logika otaknya, dan ternyata intuisinya bekerja lebih baik, maka dapatkah kita katakan bahwa hati nya yang cerdas?
Memang, sangat-sangat rancu ketika kita mengatakan bahwa hati kita ‘cerdas’. Karena, sesungguhnya hati hanya memiliki peran untuk menentukan benar atau salah, baik atau buruk, dsb. Orang yang memiliki kepribadian yang baik, hati kecilnya akan selalu mengatakan dan menuntunnya ke arah yang baik dan benar.
Proses seseorang untuk membenarkan perilakunya, merupakan suatu alur yang tidak akan pernah berhenti, selama hatinya selalu tertutup terhadap kejadian-kejadian yang dialami ataupun dirasakan dalam hidupnya.
Sebagai contohnya, saat seseorang melakukan kesalahan kepada orang lain. Entah itu dia telah berbohong, menipu, atau hal kecil lainnya, yang pada waktu selanjutnya, akan membuat hati nya resah. Saat itu, ia akan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, akibat ketidaktenangan hatinya itu. Ia akan mulai berpikir. Ada apa dengan hal yang baru saja dia lakukan? Dan di saat itulah, hatinya mulai membimbing bahwa ia salah, dan perbuatan yang baru saja ia lakukan itu tidak benar. Maka, ia akan mencari-cari, apakah kesalahannya. Setelah ia dapatkan, kemudian ia akan membenarkan dirinya sendiri terlebih dahulu, atau apa yang disebut sebagai pembenaran. Ketika kasus kedua terjadi lagi dengan hal yang sama, ternyata hatinya membimbingnya lagi bahwa perbuatan itu salah dan hal yang baru dilakukannya itu tidak benar. Maka, ia akan mencari-cari lagi, apakah kesalahannya? Terus begitu, sampai suatu saat, ia jenuh akan pembenarannya. Ketika itu pula, hatinya yang tertutup itu, menjadi sangat terbuka lebar, dan ia sadar bahwa hal itu salah. Kemudian, sebelum kasus serupa selanjutnya akan terjadi, maka ia akan berpikir dua kali untuk melakukannya.
Jangan terjebak akan contoh kasus di atas. Itu hanya sebagian kecil dari kasus sederhana yang biasa terjadi di kehidupan kita. Tulisan ini tercipta berdasarkan pengalaman ku menjalin hubungan dengan seorang wanita. Alangkah indahnya dapat kita lihat, bahwa sebuah pemikiran dapat tercipta hanya karena Tuhan telah menciptakan laki-laki dan perempuan di dunia ini, serta memberikan kasih sayang di dalam hatinya.

Satu sisi manusia…

Saat manusia merasakan kelemahannya, kadang nuraninya berkata bahwa itulah yang harus ditutupi…Terkadang, menutup-nutupi kelemahan itu merupakan cara salah yang membuat orang itu menjadi tertutup…Keterbukaan dalam kehidupan sosial tidak bisa mencerminkan sisi manusia yang ada. Manusia yang begitu heterogennya, tidak pernah lepas dari kelemahannya. Aku merasakan, sebuah dilema ‘lama’ yang kini terhirup dalam nafasku….