Hampir setiap malam, kerja paruh waktu ini ia jalani tanpa kenal lelah.

Setiap jam tidurnya ia relakan untuk terjaga, hanya untuk memastikan setiap sudut rumah mendapatkan harian surat kabarnya di pagi hari. Ketika mereka baru saja bangun dari tidurnya, sebagai teman menyeruput kopi hangat dan roti bakar.

Tak ada perasaan lelah, walaupun ia harus mengikuti kelas di kampus setelahnya.

Tak ada perasaan benci, karena ia ikhlas mengerjakannya.

Tak ada perasaan bosan, toh baginya, ini hanya pekerjaan sementara.

Ia tahu, pekerjaan ini bukanlah miliknya. Mungkin saja, ia memakan lahan pekerjaan orang lain yang lebih membutuhkan pekerjaan ini dibanding dirinya.

Tapi ia tahu, jauh di belahan bumi selatan sana, ada keluarganya juga yang membutuhkan hasil jerih payahnya ini. Jauh lebih membutuhkan.

Ia terkenang akan keluarganya sejenak.

Ibunya…bapaknya…serta adiknya yang masih kecil dan baru saja masuk sekolah SD. Ia sadar, bapaknya hanya seorang buruh pabrik biasa, dan ibunya hanya menjalankan usaha warung kopi di desanya yang sepi dari penduduk.

Ia tahu, cita-citanya akan menuntunnya lebih dari ini.

Ia tahu, kemauan dan kerja kerasnya akan membuahkan hasil yang lebih daripada apa yang ia bayangkan saat ini.

Ia tahu, mimpi-mimpinya untuk membahagiakan keluarganya akan tercapai suatu hari nanti.

Tapi ada yang ia sangat tahu..

Bahwa Tuhan-nya Maha Adil…bagi umatnya yang mau berusaha.

 

- tn -