tn654

Tulisan Akhir Tahun 2009

In Life on December 31, 2009 at 3:02 pm



Akhirnya, tahun 2009 ini akan segera berakhir dan akan diganti dengan tahun baru 2010. Bagi sebagian orang, mungkin pergantian tahun demi tahun tidak begitu berasa, begitu juga dengan saya. Saya pun (biasanya) tidak merasakan pergantian tahun demi tahun sebagai waktu yang lama. Tapi, berbeda dengan tahun ini. Tahun ini cukup spesial buat saya secara pribadi.

Hal umum, bagi pegawai kantoran biasa seperti saya, yang biasa ditunggu-tunggu adalah kenaikan gaji di perusahaan tempat kita bekerja. Kenaikan gaji di tahun ini saya kira cukup ‘miris’ karena dunia tahun ini seperti masih terkena imbas dari krisis ekonomi AS dan negara-negara Eropa lainnya (sub prime mortgage, etc.). Walhasil, industri-industri yang berpusat di AS, dan pihak-pihak yang terkait dengan rangkaian cincin arus uang dan barang di belahan dunia lainnya, terkena imbasnya pula. Tidak tertutup untuk kita yang berada di Indonesia. Rasanya, tidak ada kenaikan gaji yang signifikan tahun ini (makanya jangan mau jadi pegawai seumur hidup! – kata pengusaha sukses). Terlepas dari banyaknya pemutusan hubungan kerja atau PHK di berbagai perusahaan (dan sepertinya di AS tingkat pengangguran pun bertambah melebihi tahun-tahun sebelumnya pra-krisis tsb), pegawai-pegawai yang tidak terkena imbas PHK, berusaha mensyukuri akan pekerjaan tetapnya (makanya jangan mau jadi pegawai seumur hidup! – kata pengusaha sukses). Mereka yang terkena imbas PHK pun, bukan berarti mereka tersedih tersedu-sedu dan akhirnya sulit mencari kembali pekerjaan. Ya, mungkin tidak bisa digeneralisir seperti itu, tapi banyak orang (terutama di industri yang saya geluti sekarang ini), bahagia menerima uang pesangon dan merasa tidak sulit untuk mencari pekerjaan gantinya. Justru, dengan begitu, mereka memiliki tabungan (apa, tabungan?) dari pesangon PHK mereka (makanya jangan mau jadi pegawai seumur hidup! – kata pengusaha sukses).

Terkait urusan rumah tangga, saya melihat untuk manusia-manusia di usia saya sekarang ini (dan bukan berarti saya menyindir para manusia yang lebih tua dari saya), banyak yang telah menentukan pilihan hidupnya dan memutuskan untuk menempuh sisa hidup di dunia ini dengan pasangannya. Beberapa resepsi pernikahan yang saya hadiri, cukup bervariasi dan membuat saya pun menyadari bahwa ukuran sepatu hitam saya rupanya terlalu besar, sangking jarangnya saya pergunakan untuk pergi ke undangan dan baru tahun ini saya sering sekali pakai. Dengan bangganya saya menyatakan menolak untuk membeli sepatu Ki**ers yang dibandrol discount akhir tahun 30%..-_-. Kembali ke pembahasan awal, apapun itu, saya pribadi percaya bahwa urusan jodoh berada di tangan Yang Maha Kuasa. Dan, bagi yang percaya bahwa menikah merupakan salah satu ajaran untuk menyempurkan ibadah kita di dunia ini, saya melihat sendiri rekan-rekan saya yang – masa persiapan dan menjelang pernikahannya – diberikan kemudahan dan rejeki. Subhanallah. Untuk yang ini pun, penulis merasakannya secara pribadi. Alhamdulillah. Mengutip salah satu lirik penyair terkenal Indonesia, berbuat baik janganlah ditunda-tunda.

Bagi yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, tahun 2009 ini mungkin tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Padahal, kita punya PRESIDEN baru di tahun ini (ya muka lama wakil baru memang). Satu hal kecil saja, perihal yang hampir setiap orang yang beraktifitas di kota Jakarta ini alami setiap hari. Macet. Siapa yang tidak kenal dengan macet di Jakarta? Tidak ada. Kecuali, mereka yang setiap hari pergi dan pulang dengan tidak menggunakan kendaraan roda dua, roda empat, ataupun kendaraan umum. Saya melihat, mau siapapun gubernur yang menjabat, masalah kemacetan ini mau tidak mau, lambat cepat, pasti akan dihadapi untuk kota – dimana perputaran uang di negara kita masih berkumpul di sini – besar dan menjadi target kedatangan penduduk dari wilayah lain. Ada semut ada gula, ya selama gula masih bertebaran, semut pun akan kungjung datang. Begitulah kira-kira kondisi yang dihadapi kota Jakarta ini. Semakin hari, semakin banyak penduduk yang datang, dan tidak menutup kemungkinan, suatu saat nanti, kota ini akan terlelep. Bisa? Ya, bisa. Kota ini berada di bawah permukaan air laut, dan pembangunan serta pemukiman yang semakin bertambah banyak…ya, ini bila dilanjutkan akan berujung pada pembahasan seputar masalah teknis – lebih baik cukup sampai di sini.

Selain penduduk-penduduk yang datang, semakin menarik bahwa jumlah kelahiran manusia baru di kota ini pun tidak sedikit dan perbandingannya jauh lebih banyak ketimbang jumlah kematian manusianya. Saya rasa, ini pun dialami di sebagian kota-kota besar di dunia yang padat penduduknya. Sebagai contoh kecil saja, rekan kerja saya di kantor yang cubiclenya berjarak tidak jauh dari cubicle saya (makanya jangan mau jadi pegawai seumur hidup! – kata pengusaha sukses), sudah tiga wanita yang melahirkan di tahun ini. Untuk yang ini pun, penulis merasakannya secara pribadi pada istri, yang InsyaAllah akan melahirkan di awal-awal tahun depan. InsyaAllah.

Bagi sebagian orang seperti saya, yang mengikuti perkembangan dunia IT & gadget – secara awam-sebagai end user saja-, sedikit banyak mengalami trend baru. Fenomena yang ada semisal, harga handphone yang mulai tersaingi dengan hadirnya smartphone Blackberry. Demam Blackberry ini pun diiringi dengan hadirnya pesaing smartphone lainnya, iPhone. Tidak tertutup, laris-manisnya gadget ini pun akibat semakin berkembangnya dunia internet dan dunia sosial maya yang ada sekarang ini. Blog? Oke, ini sudah cukup lama. Tapi, fenomena munculnya cara orang berkomunikasi baru, semisal Twitter. Berita pun begitu cepat menyebar lewat situs sosial ini. Yang cukup miris belakangan terdengar, bahwa biaya bulanan orang-orang yang terkena syndroma Blackberryzm, setara dengan biaya uang sekolah untuk anak-anak di sekolah dasar yang kurang mampu. Ini PR untuk kita semua, bukan hanya pemerintah, terkait dengan pendidikan manusia Indonesia. Semua berhak untuk pendidikan yang layak. Semua berhak untuk penghidupan yang layak. Semua berhak untuk meraih mimpi dan cita-citanya. Semua…semua…dan semua…tinggal, bagaimana kita menyeimbangkan hak-hak itu dengan kewajiban-kewajiban kita yang harus dilaksanakan..:)

Akhirnya, tahun 2009 ini akan segera berakhir dan akan diganti dengan tahun baru 2010. SELAMAT TAHUN BARU 2010.

So you can post @ your office!

In Uncategorized on September 5, 2009 at 7:09 pm

Hahaha…LOL.

Hey, corporate…do you think by blocking all of the blog website, your GREAT EMPLOYEE cannot post their daily blog? Do you think that nowadays blackberry, iPhone, and other Smartphone doesn’t have internet connectivity? And do you think that your POOR EMPLOYEE cannot afford to buy those stuff, so that their GREAT PRODUCTIVITY at your office will remain as GREAT as it is?

Come on…Open your eyes, and don’t think as an internet protectors who avoid the kids from the porn. Be real, world needs the connectivity, and you should be aware that your office doesn’t even have such a library as Google has today. Can you derive the formula as per your client asked, and you expected that it should be finish by the time your GREAT EMPLOYEE already spent 20 hours overtime in a week??

*standing ovation*

Puasa datang…Jalanan tetap terang…

In Indonesia on August 28, 2009 at 4:11 pm

Hari ini, tepat seminggu berpuasa di bulan Ramadhan. Tepatnya, di Jakarta.

Satu perubahan yang unik setiap saat terjadi di bulan puasa ini adalah mengenai perubahan jam macet di lalu-lintas kota Jakarta ini. Untuk hari-hari normal, waktu macet berkisar di pagi dan sore hari, saat orang berangkat untuk beraktifitas di pagi hari, dan saat sore, ketika orang pulang dari aktifitas menuju rumah. Jam waktu macet ini pun bermacam-macam untuk setiap daerahnya. Beberapa tempat yang dekat dengan sekolahan, tentunya akan mengalami lalu-lintas yang lebih padat di pagi hari, karena banyak anak sekolahan yang diantarkan menggunakan kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat.

Ketika bulan puasa, jam macet ini berubah. Orang cenderung untuk datang lebih pagi ke kantor, dan pulang lebih cepat. Tentunya, semua ingin berbuka puasa dengan nikmatnya di tempat tinggal masing-masing, baik rumah, kostan, apartment, ataupun kontrakan. Dan, sekitar jam 7 malam, saat di mana orang muslim melaksanakan shalat taraweh, jalanan terlihat cukup lenggang. Ini yang menarik.

Kenapa menarik? Kita sering kali mendengar bahwa Jakarta adalah kota metropolitan, apapun ada dan bisa terjadi di sini. Bahkan, entah kenapa, lebih banyak hal negatif yang terekspos di media masa, dibandingkan hal positif. Banyak orang berasumsi, Jakarta merupakan kota maksiat, kota yang tidak beriman, banyak terjadi perilaku-perilaku yang di luar norma-norma agama, dsb. Tapi, siapa yang menyangka, bahwa sebagian besar masyarakat Jakarta ternyata melaksanakan shalat teraweh di masjid ketika bulan puasa?

Jika Anda tidak percaya, silakan anda keluar rumah menggunakan kendaraan (baik roda dua atau empat), dan rasakan bagaimana ‘cukup’ lenggangnya jalanan sekitar pukul 19.00 WIB sampai dengan 20.00 WIB. Lenggang untuk ukuran kota Jakarta, tentunya akan berbeda dengan lenggang di pedesaan ataupun kabupaten. Masyarakat Jakarta seakan terbiasa dengan kemacetan dan waktu tempuh yang berjam-jam di jalanan, dengan kecepatan tempuh 0-5 km/jam, ataupun 5-10 km/jam, terbiasa dengan kata-kata ‘padat merayap’, ‘berhenti’, ‘ramlan’ (singkatan dari ramai lancar), dsb. Semua seolah-olah menjadi bagian dari aktifitas yang tidak terpisahkan. Jadi, jangan heran ketika seseorang yang tinggal di Jakarta mengatakan bahwa jalanan lenggang, padahal kecepatan tempuhnya tidak melebihi dari 40 – 50 km/jam.

Ketika seseorang berkendara di jalanan DAN sambil berpuasa, terlihatlah wajah-wajah kalem dan penuh kesabaran. Entah itu macet total, entah itu ada truk patas as di tengah ruas jalan, entah itu padat merayap, bahkan ketika hujan mengguyur Jakarta (dan entah apa sebabnya) sehingga macet di mana-mana. Ya, mereka tetap ‘terang’…sembari berpuasa.

Lihatlah…dan pikirkan barang satu menit saja, ternyata masih ada perasaan-perasaan ikhlas dan putih itu di kota ini. Janganlah kita memperburuk kondisi kota ini dengan selalu berpikiran negatif dan menyeramkan. Lihatlah…kota ini pun mampu menunjukkan dengan sendirinya, bahwa masih banyak orang yang beribadah dan menjalankan kewajiban beragamanya dengan penuh kesadaran…

Go Jakarta…Go Indonesia…

http://twitter.com/tomy_momy