So you can post @ your office!

Hahaha…LOL.

Hey, corporate…do you think by blocking all of the blog website, your GREAT EMPLOYEE cannot post their daily blog? Do you think that nowadays blackberry, iPhone, and other Smartphone doesn’t have internet connectivity? And do you think that your POOR EMPLOYEE cannot afford to buy those stuff, so that their GREAT PRODUCTIVITY at your office will remain as GREAT as it is?

Come on…Open your eyes, and don’t think as an internet protectors who avoid the kids from the porn. Be real, world needs the connectivity, and you should be aware that your office doesn’t even have such a library as Google has today. Can you derive the formula as per your client asked, and you expected that it should be finish by the time your GREAT EMPLOYEE already spent 20 hours overtime in a week??

*standing ovation*

Puasa datang…Jalanan tetap terang…

Hari ini, tepat seminggu berpuasa di bulan Ramadhan. Tepatnya, di Jakarta.

Satu perubahan yang unik setiap saat terjadi di bulan puasa ini adalah mengenai perubahan jam macet di lalu-lintas kota Jakarta ini. Untuk hari-hari normal, waktu macet berkisar di pagi dan sore hari, saat orang berangkat untuk beraktifitas di pagi hari, dan saat sore, ketika orang pulang dari aktifitas menuju rumah. Jam waktu macet ini pun bermacam-macam untuk setiap daerahnya. Beberapa tempat yang dekat dengan sekolahan, tentunya akan mengalami lalu-lintas yang lebih padat di pagi hari, karena banyak anak sekolahan yang diantarkan menggunakan kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat.

Ketika bulan puasa, jam macet ini berubah. Orang cenderung untuk datang lebih pagi ke kantor, dan pulang lebih cepat. Tentunya, semua ingin berbuka puasa dengan nikmatnya di tempat tinggal masing-masing, baik rumah, kostan, apartment, ataupun kontrakan. Dan, sekitar jam 7 malam, saat di mana orang muslim melaksanakan shalat taraweh, jalanan terlihat cukup lenggang. Ini yang menarik.

Kenapa menarik? Kita sering kali mendengar bahwa Jakarta adalah kota metropolitan, apapun ada dan bisa terjadi di sini. Bahkan, entah kenapa, lebih banyak hal negatif yang terekspos di media masa, dibandingkan hal positif. Banyak orang berasumsi, Jakarta merupakan kota maksiat, kota yang tidak beriman, banyak terjadi perilaku-perilaku yang di luar norma-norma agama, dsb. Tapi, siapa yang menyangka, bahwa sebagian besar masyarakat Jakarta ternyata melaksanakan shalat teraweh di masjid ketika bulan puasa?

Jika Anda tidak percaya, silakan anda keluar rumah menggunakan kendaraan (baik roda dua atau empat), dan rasakan bagaimana ‘cukup’ lenggangnya jalanan sekitar pukul 19.00 WIB sampai dengan 20.00 WIB. Lenggang untuk ukuran kota Jakarta, tentunya akan berbeda dengan lenggang di pedesaan ataupun kabupaten. Masyarakat Jakarta seakan terbiasa dengan kemacetan dan waktu tempuh yang berjam-jam di jalanan, dengan kecepatan tempuh 0-5 km/jam, ataupun 5-10 km/jam, terbiasa dengan kata-kata ‘padat merayap’, ‘berhenti’, ‘ramlan’ (singkatan dari ramai lancar), dsb. Semua seolah-olah menjadi bagian dari aktifitas yang tidak terpisahkan. Jadi, jangan heran ketika seseorang yang tinggal di Jakarta mengatakan bahwa jalanan lenggang, padahal kecepatan tempuhnya tidak melebihi dari 40 – 50 km/jam.

Ketika seseorang berkendara di jalanan DAN sambil berpuasa, terlihatlah wajah-wajah kalem dan penuh kesabaran. Entah itu macet total, entah itu ada truk patas as di tengah ruas jalan, entah itu padat merayap, bahkan ketika hujan mengguyur Jakarta (dan entah apa sebabnya) sehingga macet di mana-mana. Ya, mereka tetap ‘terang’…sembari berpuasa.

Lihatlah…dan pikirkan barang satu menit saja, ternyata masih ada perasaan-perasaan ikhlas dan putih itu di kota ini. Janganlah kita memperburuk kondisi kota ini dengan selalu berpikiran negatif dan menyeramkan. Lihatlah…kota ini pun mampu menunjukkan dengan sendirinya, bahwa masih banyak orang yang beribadah dan menjalankan kewajiban beragamanya dengan penuh kesadaran…

Go Jakarta…Go Indonesia…

http://twitter.com/tomy_momy

Bergunalah untuk orang lain…

Semalam, setelah nonton salah satu acara di tv swasta yang memberikan tentang motivasi kehidupan, ada satu hal yang cukup menarik untuk dibahas, yaitu mengenai hubungan antara waktu yang berputar dan usia seseorang. 

Waktu yang dihabiskan oleh seseorang untuk mencapai, katakanlah, usia 40 tahun, adalah sama untuk setiap manusia di muka bumi ini. Ya, karena bumi memiliki waktu 1 hari = 24 jam, dan hal ini berlaku untuk setiap orang. Hal yang membedakan adalah, seberapa bermanfaatnya waktu yang dihabiskan oleh orang tersebut sewaktu menjalani hidupnya sampai usia 40 tahun tersebut?

 

40-thn1Perhatikan gambar di atas. Bagi yang semalam melihat acara ini di tv, mungkin masih ingat dengan gambar ini. Orang memiliki waktu yang dihabiskan untuk mencapai 40 tahun ini sama.  Persamaanya terlihat pada ujung awal-ujung akhir kedua garis tersebut, terletak pada dua garis vertikal yang sama, yang memperlihatkan rentang waktu selama 40 tahun, yaitu 40 x 365 hari x 24 jam.

Apa perbedaannya? Perbedaanya terletak pada panjang garisnya. Bayangkan jika kedua garis tersebut berupa seutas benang, benang satu bermotif belang-belang (garis putus-putus), dan benang satunya bermotif polos (garis lurus). Jika kedua benang itu direntangkan, maka benang bermotif belang-belang memiliki panjang yang lebih besar dibanding benang polos.

40-thn-panjangApa artinya? Jika benang tersebut kita analogikan sebagai usia hidup seseorang, orang yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain akan memiliki waktu yang lebih banyak dan lebih panjang ketimbang orang yang hidup biasa-biasa saja. Hidup biasa-biasa saja bukan berarti hidup tidak berguna, tolong dibedakan. Berguna pada orang banyak, niscaya Allah akan menyanyangi dan memberikan hidup yang lebih panjang kepada kita. 

Memberikan manfaat kepada orang banyak sesuai dengan amanah yang harus diemban oleh setiap orang. Masih ingat dengan kalimat ini, “Sebaik-baiknya ilmu adalah yang bermanfaat bagi orang banyak” ? Ya, ilmu yang berguna hanyalah ilmu yang jika diterapkan, akan memberikan manfaatnya kepada orang banyak. Tak ada artinya ilmu yang dipendam sendiri dan itulah mengapa manusia tercipta sebagai makhluk sosial, yang tidak bisa hidup seorang diri. 

Orang yang banyak digantungi nasibnya oleh orang lain, dan bermanfaat, akan senantiasa berlika-liku dan beririsan dengan banyak hal, sehingga panjang sekali perjalanannya, dan perputaran waktunya serasa jauh lebih lambat. 

Bergunalah untuk orang lain…

Bongkot project on weekend

Currently, now I am working on this field for detail engineering design. Bongkot field, phase 4A. It’s not a wellhead, it’s not a central processing unit, but it is a living quarter platform. I’m not talking for 20-50 persons, but 160 persons inside this platform. Pufff….it is four legged jacket, with 8 levels of Topside, in 62 meter MSL water depth.

After several months of absence in ‘Saturday overtime’ schedule, today,this record was broken. Some surprise in the office today that lunch was provided. Even though the menu was nothing more than nasi padang, but I think the management starts to give extra honour for those who come on Saturday and compromising their time with their families to finish the project. By doing so, I believe their efforts also gave extra net income to the company. 

Back to the project. I think one of the main challenge of this project is the natural period of this platform, which is more than 3 seconds. Hence, certain dynamics analysis must be done and complying with the whole integrated analysis.

For the time being, this project was still on going with preliminary of MTO (Material Take Off) and standardize the design basis. FEED had already done by technip Malaysia. Sort of documents have been reviewed and checked with worleyparsons standards. So far, FEED was good enough. 

Well…we’ll see in the next couple of months. And, can’t wait for the performance review stage this year, and see what another ’surprise’ will they give to the employees. 

Wait a minute…Employees? Oh…Thanks God, I’m still employed in this terrific global economic crisis.

For whom it may concern…

Jakarta, September 2008

Some incident happens. More hurts engraved reluctantly to everybody who facing it. I thought that I need to find something beneath the causal factor. Not only me, but this is just for the sake of reference. In case, this way may help. For whom it may concern…

From wikipedia

Psikiater adalah profesi dokter spesialistik yang bertugas menangani masalah-masalah gangguan jiwa. Berbeda dengan psikolog, seorang psikiater harus lebih dulu menamatkan pendidikan dokter umum. Gelar akademik seorang psikiater di Indonesia adalah Sp.KJ (Spesialis Kedokteran Jiwa).

Eventough it is stated ‘gangguan jiwa’, but from other source, I found that this was an ancient oppinion from people that should be cleared by today’s modern medical knowledge. Read below…

From kompas :

Ke Psikiater Belum Tentu Sakit JIWA
Oleh: dr.H. Tubagus Erwin Kusuma.Sp.KJ, (kompas.com)
Spesialis Kesehatan Jiwa

*) Menurut para psikiater, bicara itu dapat membantu memecahkan masalah kita
yang jelas juga banyak membantu mereka.

Selama ini banyak di antara kita malu mendatangi psikiater atau dokter spesialis
kesehatan jiwa. Takut dikira orang gila atau punya keluarga gila.

Alasan itu masuk akal lantaran ada pandangan di sebagian masyarakat bahwa seorang
psikiater adalah dokter bagi orang sakit jiwa. Celakanya, masyarakat juga menganggap
orang sakit jiwa itu hanya gila (psikosis). Pandangan itu salah besar. Yang benar, seorang
psikiater mengemban tugas promosi, prevensi, terapi, dan rehabilitasi. Juga, memikul
tugas psikiatri forensik yang berkaitan dengan bidang hukum. Jadi, yang perlu
mendapatkan bantuan psikiatri bukan cuma orang sakit jiwa!

Kita yang berjiwa sehat bisa meningkatkan taraf kesehatan jiwa kita (promosi) dengan
bantuan seorang psikiater. Dengan taraf kesehatan jiwa lebih tinggi, kita lebih tahan
dalam menghadapi stres (ketegangan) sehingga tidak mudah menjadi distres (sakit).
Caranya, dengan menjalani latihan mental untuk membiasakan diri menghadapi berbagai
hambatan dan tantangan secara bertahap menggunakan metode tertentu.

Psikiater juga perlu dikunjungi untuk mencegah timbulnya gangguan jiwa dalam
menghadapi masa penyesuaian diri terhadap perubahan keadaan (prevensi). Umpamanya,
perubahan dalam hal pendidikan, tugas, nikah, pindah (tempat tinggal, kerja, atau
sekolah), perubahan posisi atau status dalam masyarakat. Bahkan untuk mengetahui
sejauh mana kita tepat menduduki suatu jabatan pun sebenarnya dibutuhkan psikiater.

Ok, we know the definition, we know the meaning beyond the word-especially that people shouldn’t have impression of persons who attend to physiciatrist as a ‘mad’ person-, then next question probably would be ‘When we should find those physiciatrist?’. Here’s some another nice article that may interested to be read as well.

Have a good day!

"I did have strange ideas during certain periods of time." - Prof. John Nash

Rusia…

Setelah selesai membaca buku “Kebangkitan Rusia – Peran Putin dan Eks KBG” karangan Simon Saragih, rasanya naas juga melihat keadaan Indonesia sekarang, yang sebenernya agak mirip kasusnya dengan apa yang dialami dengan Rusia di akhir dekade 1990-an. Sayangnya, Indonesia justru makin terpuruk setelah adanya era pergantian rezim di tahun 1998, berkat orang-orang jahat AS dan IMF yang ingin terus menjatuhkan negara-negara berkembang.

Satu hal penting yang terus mengiang di pikiran adalah masalah aset negara. Rusia bisa bangkit dari krisis ekonomi karena mampu mengembalikan kepemilikan aset-aset negaranya, terutama dari sektor migas, dari pihak swasta dan orang-orang asing, kembali ke tangan negara atau rakyatnya. Sementara, Indonesia…sepertinya intervensi asing justru semakin tak terbendung. Memang sepertinya gampang sekali melihatnya, bahwa pihak luar, terutama AS, sengaja menghancurkan Indonesia dengan merintisnya semenjak era orde baru. Mereka mampu menyetir negara kita dengan membiarkan negara kita berhutang di mana-mana, sampai suatu saat, negara kita mengalami krisis, dan tidak mampu lagi melunasi hutangnya. Kemudian, datanglah ’sang penyelamat’ IMF yang dengan sejuta dalih nya mampu mensihir petinggi Indonesia, dan menerima bala bantuan IMF, yang sebenernya mendeskripskikan gali lubang tutup lubang.
Ketika roda perekonomian Indonesia mulai bergerak kembali, Indonesia butuh modal besar dari investor. Dan di sinilah kita tidak bisa berbuat apa-apa, karena keberadaan investor asing – yang sebenernya hanya ingin memeras kekayaan negara kita – tidak dapat dihindari lagi. Pergerakan roda ekonomi negara menyangkut hajat hidup orang banyak, dan ini masalah kelangsungan kehidupan. Pemerintah, dengan sistem demokrasinya, tidaklah mungkin membiarkan rakyatnya hidup menderita. Berbagai opsi ditempuh, tapi sepertinya hanya untuk menutupi segala celah kekurangan yang ada. Ketimpangan antara yang kaya dan miskin semakin terlihat jelas di sini. Benar adanya, perekonomian kita semakin membaik, tapi tidaklah merata untuk seluruh rakyatnya. Kalangan atas semakin kaya dan kalangan bawah semakin terpuruk ke dalam jurang kemiskinan. Ya, inilah fakta yang sekarang dihadapi oleh pemerintah.

Sedikit sentilan yang cukup miris dari hari ini. Seharian aku perhatikan tayangan dari salah satu channel dari tv kabel, digital travel…di channel tersebut, berkali-kali aku perhatikan, banyak sekali tempat-tempat wisata di asia yang memikat. Pantai indah, arung jeram, museum, makanan, serta taman reservasi sekaligus tempat rekreasi, yang semuanya beraroma tropis…Berkali-kali iklan seperti itu muncul dalam setiap tayangan di channel tersebut…Aku sendiri sampai berpikir dalam hati, wah enak sekali seandainya bisa liburan ke tempat-tempat seperti itu… Di benakku, yang terbayang adalah tempat-tempat eksotis seperti di thailand, filipinna, china, atau Indonesia…Namun, begitu kagetnya aku, ternyata Malaysia lah yang gencar sekali mempromosikan tempat-tempat itu! Dengan slogannya Malaysia-trully Asia, aku terhenyak kaget…Dalam hati, aku geram bercampur kesal jg dengan orang-orang Indonesia…Kenapa kita tidak segencar mereka? Malaysia, yang luas negaranya tidak seberapa dari pulau jawa, mampu mempromosikan tempat wisatanya tersebut ke bermilyar pasang mata di dunia ini. Sementara, Indonesia, yang jelas memiliki tempat wisata yang aku percaya jauuuuuuuuuuuuuh lebih bagus dan lebih banyak dari itu, tidak ada satupun yang aku lihat iklannya. Mungkin ada, itupun hanya Bali…dan lagi-lagi Bali…

Aku jadi berpikir…mungkin kita malu mempromosikan tempat-tempat wisata seperti itu, karena sarana dan prasarana yang belum memadai di negara kita mungkin? Atau…mungkin kita tidak mampu menampung wisatawan yang datang dengan servis yg memuaskan? Atau mungkin, kita takut wisatawan yang datang justru kecewa karena tidak adanya fasilitas yang sesuai dengan standar international? Minimal, bahasa inggris yang memadai. Naas memang…padahal, negara ini begitu kaya…begitu kayanya…dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau…Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia Raya…

Structural Abuse

Safety Moment, on Tuesday, 10 june 2008.

Ok, next target for this year KPI…

=)

Minggu sore…

Kehidupan itu lucu, seperti layaknya juga proses seorang anak kecil yang belajar berjalan… Selucu-lucunya kehidupan, tak ada yang lebih membingungkan daripada kisah cinta seseorang. Proses belajar berjalan yang serupa seperti layaknya perjalanan cinta kaum adam dan hawa.

Sejauh apa seharusnya kita bisa menikmati indahnya sinar matahari di sore hari, disertai dengan angin sepoi-sepoi, sepiriing camilan hangat dan minuman segar, yang disuguhi oleh orang yang disayanginya? Oh…sungguh nikmat rasanya anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada manusianya.

Hanya saja, manusia memiliki sisi buruk yang hanya dapat dikendalikan oleh manusianya itu sendiri. Kekuatan terbesar itu sebenernya ada dari bagaimana individu-individu tersebut mengendalikannya. Kepuasan adalah murni berasal dari alam pikiran masing-masing.

BBM Naik…rusuh, penting apa?

Yup! BBM akhirnya naik juga dengan angka kenaikan sekitar 27,8 %. Oke. Tapi, ternyata tetep aja subsidi pemerintah ke rakyat belum habis. Walaupun memang bisa mengurangi angka subsidi ke rakyat miskin. Rakyat miskin…hmmm ya…rakyat miskin, apakah dengan BBM Naik, lalu subsidi pemerintah ke rakyat berkurang, alisa beban pemerintah sedikit berkurang, lalu beban rakyat miskin juga bisa sedikit berkurang? Sepertinya belum. Belum, bukan berarti ‘tidak’. Dalam artian, masih ada peluang untuk ‘iya’.

Nggak perlu mendefinisikan rakyat miskin itu siapa atau kalangan mana. Biar saja, orang terkaya se Asia Tenggara pun tau, kalo dari 225 juta rakyat kita, 16.58% penduduknya masih berada di bawah garis kemiskinan (BPS No.38/07/Th.X,2 Juli 2007). Belum lagi rakyat yang masih tertahan kasus-kasus yang belum ada solusinya hingga kini, seperti kasus lumpur yang muncrat di sana-sini, kasus penyakit dengan sumber virus unggas, dan sebagainya.

Sementara kalau kita pikir-pikir, siapa siy yang tidak merasa susah ketika harga kebutuhan pokok naik, harga transportasi naik, harga ini, harga itu, naik semua? Yang jelas, akan terjadi impact terhadap cashflow atau keuangan masyarakat. Sampe sini, rasa-rasanya, kita sama sepakat kalau semua mengalami efek buruknya dari naeknya BBM ini (terlepas dari kaum2 kapitalis penikmat minyak dunia, yg dengan sangat menyesal harus dikatakan bahwa Indonesia, negara dengan cadangan migas yg besar, tidak termasuk kaum itu). Lalu, entah kenapa, orang yang sama-sama dibikin susah, justru saling sibuk dengan hal-hal yang ‘dirasa’ tidak penting. Kasus bentrok mahasiswa yang demo akibat BBM naik, dengan polisi, yang berujung dengan kerusuhan dan adanya tudingan tindakan anarkis. Media masa justru sibuk memberitakan pelanggaran HAM, penemuan narkoba di lingkungan kampus, tindakan mahasiswa yang mengganggu kepentingan publik, dsb…dsb…. Lalu, untuk apa semua ini?? Apa hubungannya dengan BBM yang naik? Bukankah, kedua belah pihak, mengikuti kesepakatan di atas, sama-sama dirugikan akibat BBM yang naik ini?

Penting apa? Apa penting? Apanya yang penting?!?

Nasionalisme atau…? (2)

Baru aja selesai perjuangan timnas bulutangkis kita di ajang Thomas & Uber Cup 2008. Walaupun Indonesia tidak menjadi juara, namun setidaknya ada satu point penting yang bisa kita gunakan untuk mendasari ratusan permasalahan yang ada di negara kita saat ini, yaitu jiwa nasionalisme.

Lagi, sepertinya musuh bersama ini bisa mempersatukan negara kita. Satu artikel di internet, terdapat kata-kata yang mengatakan ‘mereka rindu rasa kebangsaan’. Mereka disini adalah rakyat kita yang senantiasa sabar oleh nasib terdzalimi dari para kaum penindas egois dan perusak persatuan. Entah kenapa, walaupun tak pernah merasakan hidup di era presiden pertama RI (Ir. Soekarno), namun jiwa dan rasa nasionalisme nya yang begitu tinggi ini masih bisa terasa lewat untaian sejarah.

Apa sebenernya yang orang lihat di negara kita ini? Tiba-tiba terlintas di benak, sejauh mana karier politik seseorang itu? Rasanya, malu melihat banyaknya partai di negara kita seandainya tujuannya masih saja seputar meraih kesohoran dan puncak materi, sementara rakyat yang menjadi tanggungannya terus saja menangis kelaparan. Tak ada yang salah dengan berpolitik, selama dilakukan dengan sehat dan sportif.

Di saat ramai pembicaraan orang seputar kenaikan harga BBM dan bahan-bahan pokok, sejumlah protes datang dan sejumlah khalayak berusaha memberikan solusi alternatif. Namun, sepertinya sejumlah ‘oknum’ dengan bahagia mentertawakan negara kita dari balik dinding yang tak terlihat. Siapa sebenernya dia ini…?

To be continued…